Friday, 27 December 2013

Pak Mail dan Sayuran Organiknya

Di saat cuaca cerah pada pagi hari, saya dan istri sering bersepeda. Rute yang kami lalui terkadang berubah-ubah, tapi semua rute melewati area persawahan. Sungguh sesuatu yang memang mengasyikkan bagi kami, selain menyehatkan, suguhan pemandangan yang indah dan menyejukkan benar-benar membuat kami merasa fresh. 
Waktu itu, pemandangan kami tertuju pada sesuatu yang benar-benar berbeda. Sejauh mata memandang tanaman padi cukup mendominasi, tapi, yang satu ini menarik. Lahan memanjang dan tidak terlalu luas dipenuhi atap plastik dangan bentuk yang menyerupai rumah. Kami mencoba mendekat, karena kami penasaran, aktivitas apa yang ada di lahan tersebut. Ternyata, lahan tersebut penuh dengan berbagai macam sayuran, ada slada, cabe, sawi, loncang, buncis. Waktu itu kami mencoba mencari siapa pemilik kebun tersebut, tapi sayang tidak tak seorangpun di tempat tersebut.

Atap yang tersusun rapi dan menarik.

Karena rasa ingin tahu yang besar, beberapa hari kemudian, saya sengaja mendatangi lagi tempat tersebut. Waktu yang tepat, ada seseorang di lahan itu, badannya kecil, memakai topi bulat, kaos lengan panjang, bersepatu bot dan sedang meyiram tanaman dengan memakai gembor. Langsung saya dekati dan saya coba bertanya, siapa pemilik lahan tersebut, tentu dengan nada yang halus he... Dengan wajah yang penuh senyum dan sedikit tertawa kecil, si bapak menjawab bahwa dia pemiliknya. Kamipun berkenalan, tapi, karena suaranya yang samar-samar menyebutkan namanya, saya agak ragu apakah namanya benar-benar Pak Mail he.. Sambil mengikuti ke mana arah Pak Mail menyiram tanamannya, dari mulut saya, banyak pertanyaan yang terlontar dan Pak Mail dengan senyumnya yang khas berusaha menjawab pertanyaan saya ( kayak wartawan aja ya... he...). 

Bagaimana indah bukan ?

Perjuangan Pak Mail...
Pak Mail menanam sayuran organik, banyak pelanggan yang datang secara langsung mengambil hasil panennya. Apa yang telah dilakukannya hingga saat ini berhasil, ternyata tidak mudah. Dulu, sebelum menggarap lahannya, Pak Mail bekerja di sebuah perusahaan, tapi akhirnya memilih keluar dan menggarap lahan yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, luas lahan Pak Mail sekitar 800 m2. Yang membuat saya terkesima adalah keteguhannya untuk menanam sayuran organik dan perjuangannya dalam menawarkan hasil panennya. Tidak mudah meyakinkan kepada orang atau perusahan bahwa sayuran yang dihasilkannya benar-benar organik. Selain itu, harga sayuran organik lebih mahal dari sayuran non-organik, membuat usaha untuk menjual hasil panennya semakin terasa berat. Pak Mail bergerilnya dari toko-toko penjual sayuran hingga restoran-restoran ternama untuk menawarkan hasil panennya, sesuatu yang saya sendiri belum mampu melakukannya.
Ya... kesuksesan Pak Mail dan lahan organiknya membuat Pak mail sering diundang menjadi pembicara dalam acara-acara yang bertemakan pertanian organik. Tidak hanya itu, lahan yang indah yang dikelolanya sering dikunjungi oleh orang yang ingin sekedar melihat atau belajar seperti saya he... Keterbukaan dan keiklasan untuk berbagi dari diri Pak Mail membuat saya dan mungkin orang lain terasa betah berlama-lama di lahan Pak mail.

Tanam dan panen secara bergilir.

Pak Mail mengolah lahannya...
Dalam melakukan perawatan khususnya penyiraman, Pak mail tidak mengandalkan air selokan yang ada disamping lahannya, karena Pak Mail menyadari, air selokan tersebut sudah tercemar oleh bahan bahan kimia yang digunakan oleh petani lain seperti pupuk dan pestisida untuk pembasmi hama. Pak Mail membuat sumur sendiri di lahannya, sehingga air untuk penyiraman benar-benar bebas bahan-bahan kimia. Selain itu, karena lahannya bersebelahan dengan lahan milik orang lain, maka di setiap sisi lahannya dibuat tanggul dan selokan untuk mengalirkan air resapan dari lahan tetangga yang tercemar.
Dalam pemupukan, Pak Mail mengandalkan pupuk kandang, dan pupuk cair buatan sendiri. Untuk pupuk kandang, Pak Mail sudah memiliki langganan dari seseorang yang yang memproduksi kompos dari ternak sapi yang dikelola secara kelompok. Dan sekarang pun saya juga ikut-ikutan jadi pelanggan kompos di tempat tersebut
Dalam mengatasi hama, Pak Mail mengandalkan ramuan alami yang dibuat sendiri, saya juga pernah diberitahu tapi lupa, karena memang banyak bahan yang digunakan terutama dedaunan dan saya waktu itu belum begitu banyak mengenal.
Untuk setiap bedeng, Pak Mail tidak menanam dengan tanaman yang sama secara terus menerus karena menurutnya itu tidak baik. Jika saat ini bedeng A ditanamani sawi, maka setelah panen, tanaman selanjutnya akan berbeda, bisa loncang atau yang lain. Saya pernah membaca sebuah berita. Di suatu daerah yang banyak menanam tanaman sejenis pada lahan yang sama, akhirnya lama kelamaan selain produksi semakin menurun, banyak ditemui hama dan penyakit. Ya.. mungkin itu alasan Pak Mail.

Pembibitan yang dilakukan Pak Mail.
Di lain waktu, di sore hari yang cerah, saya sengaja mampir di lahan Pak Mail, jujur, rasanya senang melihat sayuran di lahan Pak Mail. Saat kami sedang berbincang, istri dan anak Pak Mail datang, ternyata.. saat sore hari, istri dan anak Pak Mail sering ikut membantu. Sungguh suasana yang begitu indah di sebuah persawahan. Kami pun saling berbincang ke sana kemari dalam suasana yang begitu menyenangkan, ya... karena kami semua mencintai pertanian, lahan pertanian seolah-olah adalah rumah kedua bagi kami.

Lubang-lubang yang siap ditanami.


Cabai yang tumbuh subur.

Sebuah pengalaman dan pelajaran berharga bagi saya dan keluarga, keberadaan Pak Mail memotivasi keluarga kami dalam menanam sayuran organik di pekarangan rumah. Doakan ya.... semoga kelak kami bisa seperti Pak Mail dan sayuran organiknya... amin....  

Thursday, 19 December 2013

Mari Menanam Sawi

Di keluarga kami, sawi sudah menjadi tanaman yang wajib ada di pekarangan. Sejak awal kami menanam, mulai dari menanam di tanah langsung, di polibag, di pot dan di aquaponik, sawi seolah-olah menjadi tanaman primadona. Berbagai variasi makanan seperti sayur oseng-oseng, sayur bobor, lalapan, campuran bakso, campuran mi godok, dan masih banyak lagi, semuanya menghadirkan sawi di dalamnya. Warnanya yang hijau mengundang nuansa segar dalam masakan.  

Tanaman sawi banyak jenisnya, tapi yang sering menghiasi pasar-pasar atau warung-warung adalah sawi sendok sawi yang pangkalnya besar seperti sendok, sawi bakso sawi yang sering kita jumpai di mangkok saat makan bakso, sawi putih sawi yang warnanya putih, dan masih banyak lagi sebenarnya tapi saya tidak hapal he.....

Dari sekian banyak jenis sawi, sawi bakso dan sawi sendok yang sering kami tanam, kami pernah menanam sawi putih tapi hanya sekali. Cara tanam dari ketiga jenis sawi pada dasarnya sama dan mudah. Lansung ya akan saya bagikan pengalaman saya dalam menanam sawi. Sebagai catatan, penanaman yang akan saya bagikan adalah menanam dengan media pot dan sebenarnya sama untuk polibag.

Persiapan lahan..
Selama ini, tempat atau arena kami menanam kami beri atap berupa plastik anti "UV", sayang harga per meter saya lupa, nota saya cari sudah tidak ada he..., alasan kami yang utama adalah air hujan. Dari pengalaman ketika awal kami mulai menanam, ketika musim hujan, lahan kami hancur karena gerusan air hujan yang begitu deras. Saat musim panas, atap tetap kami pasang karena bisa mengurangi panas yang berlebihan, selain itu juga menjaga tanah agar tidak mengalami penguapan yang berlebihan. Dalam memasang atap, untuk sisi bagian timur dibuat lebih tinggi, dan bagian barat lebih rendah, tujuannya supaya sinar matahari pagi yang masuk bisa mengenai tanaman 100%.

Pot yang kami gunakan.
Untuk media tanam, kami menggunakan campuran pupuk kandang, cocopit, arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1, pot diisi sampai kira-kira menyisakan jarak sekitar 1 cm dari bibir wadah. Pot yang kami gunakan mempunyai ukuran dengan diameter sekitar 20 cm. Selama ini setelah pot diisi media, kami biarkan sambil menunggu persemaian, tapi setiap hari tetap kami siram. Jangan lupa nyari cacing trus dimasukkan he...

Proses penyampuran cocopit, pupuk kandang dan
arang sekam padi. 
Persemaian
Dalam melakukan persemaian, saya kadang menggunakan besek atau wadah yang sudah tidak terpakai dengan media sama dengan yang di pot. Setelah media siap, biji kita sebar merata, kemudian kita tutup dengan ketebalan antara 1-3 cm. Penyiraman setiap hari pagi dan sore dengan menggunakan gembor yang memiliki lubang air lembut supaya persemaian kita tidak rusak. Mungkin lebih baik kalo persemaian terkena sinar mentari pagi.
Terkadang pas lagi males... (kadang-kadang lo he...) biji tidak kami semai ditempat khusus, tapi langsung tanam di pot, tapi... menurut saya hal itu kurang baik, karena terkadang ada biji yang tidak tumbuh, selain itu karena biji sawi yang kecil sehingga untuk mengambil satu biji aja susah...


Persemaian kami.
Penanaman
Setelah 2-3 minggu atau daun sudah berjumlah 3-4 helai, tanaman sudah siap dipindah ke media pot atau yang memiliki akuaponik bisa dipindah ke media tanam. Lebih baik proses penanaman dilakukan pada sore hari sekitar jam 4 - 5, atau matahari sudah mulai tenggelam untuk menghindari layu, dan itu yang selalu kami lakukan. Dalam proses pencabutan tanaman dari persemaian hati-hati ya jangan sampai bagian akarnya putus. Sebelum ditanam lebih baik media di pot disiram dahulu, begitu juga setelah penanaman, untuk akuaponik tentu tidak perlu he...
Sudah siap untuk dipindah ke pot.


Sawi yang baru saja dipindah.

Perawatan
Perawatan untuk tanaman sawi menurut pengalaman kami cukup mudah. Keluarga kami melakukan penyiraman setiap sore, untuk musim hujan kadang dua hari sekali, maklum....matahari jarang "nongol".... Jangan lupa siram pake air kolam kalo ada, air cucian beras atau bahasa kerennya "leri" juga boleh he...
Untuk masalah hama, menanam di pot atau polibag lebih mudah penanganannya. Setiap hari atau ketika menyiram bisa sambil memeriksa tanaman, jika dijumpai hama segera ambil dan matikan, bisa dipencet seperti yang kami lakukan, kalo hamanya ulat, atau belalang ambil trus dikasih ke ikan, ikan pasti senang banget. 

Panen
Setelah umur 1,5 bulan sawi bisa di panen, jangan lebih dari 2 bulan, karena ketika dimasak dan dimakan sudah agak keras. Kami biasa memanen hanya mengandalkan penglihatan, kira-kira sudah besar langsung kita petik. Sawi yang umurnya kurang dari 1,5 bulan biasanya masih "krenyes-krenyes" , lebih enak dan seger. 

Banyak yang bolong dimakan hama.

Siap dipanen

Masih muda

Panen
Nah... sekian dulu ya... selamat menanam....

Thursday, 12 December 2013

Membuat Aquaponik Yuk....

Jujur, dulu tepatnya sekitar awal tahun 2012, saat pertama kali menemukan sistem akuaponik saya benar-benar bingung, maklum, karena sejak saya kecil terbiasa menanam menggunakan media tanah. Waktu itu, mencari informasi dalam bahasa indonesia masih sangat susah, jangankan buku, informasi di internet masih jarang, mungkin karena di Indonesia belum banyak dikenal. Saya mencoba mempelajari dengan lebih banyak mengandalkan foto dan video. 
Nah... untuk pembaca yang masih kurang mengenal akuaponik dan ingin membuatnya, saya akan mencoba memberikan informasi yang saya ambil dari berbagai sumber dan saya kolaborasikan dengan pengalaman saya. 

Akuaponik (Aquaphonic)...
Akuaponik adalah gabungan dari  budidaya ikan atau disebut akuakultur dan budidaya sayuran /tanaman dalam satu kesatuan sistem yang saling menguntungkan. Keberadaan ikan, tanaman dan bakteri merupakan unsur yang sangat penting, karena keberadaan ketiga unsur tersebut melahirkan simbiosis mutualisme yaitu suatu hubungan yang saling menguntungkan. Ikan menyumbang kotoran dan sisa pakan yang di dalamnya mengandung amonia. Bakteri menyaring dan mengubah amonia menjadi nitrat, zat yang berfungsi sebagai pupuk bagi tanaman. Tanaman memasok oksigen yang diperlukan ikan.


Simbiosis mutualisme dalam akuaponik


Karena akuaponik merupakan gabungan budidaya ikan dan budidaya sayuran/tanaman, maka hasil yang kita dapat tentu tidak hanya ikan, tapi juga tanaman khususnya sayuran. 

Hidroponik...
Mungkin untuk menambah wawasan kita, berikut saya bagikan beberapa teknik dalam hidroponik yang saya kutip dari majalah TRUBUS, hal tersebut perlu, karena dalam akuaponik menerapkan teknik-teknik hidroponik.

1. Nutrient Film Technique (NFT), merupakan teknik hidroponik yang menjadikan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal (2-3 mm) dan tersikulasi secara terus menerus sehingga tanaman dapat memperoleh air, nutrisi, dan oksigen yang cukup. 

2. NFT tanpa Greenhouse, merupakan modifikasi metode NFT tanpa penaung atau greenhose. Teknik ini sangat revolusioner mengingat biaya investasi pembuatan greenhouse cukup mahal.

3. Aeroponik atau pengabutan, merupakan metode budidaya tanpa tanah dengan memberikan air dan nutrisi pada tanaman dalam bentuk butiran kecil atau kabut. Pengabutan berasal dari air dari bak penampungan yang disemprotkan menggunakan nozel sehingga nutrisi lebih cepat terserap akar tanaman. Penyemprotan berdasarkan durasi waktu yang diaur menggunakan pengatur waktu. Penyemprotan ke bagian akar tanaman yang sengaja digantung. Air dan nutrisi yang telah disemprot akan masuk menuju bak penampungan untuk disemprotkan kembali.

4. Substrat atau Drip irrigation, merupakan teknik hidroponik yang memberikan air dan nutrisi dalam bentuk tetesan. Tetesan diarahkan tepat pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan.

5. Floating Hydroponyc System (FHS) atau rakit apung, merupakan teknik hidroponik dengan menanam tanaman pada lubang stirofom yang mengapung di atas permukaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akar tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi.

6. Wick System atau sistem sumbu merupakan teknik sederhana yang menghubungkan nutrisi dan media tanam dengan perantara sumbu. Air dan nutrisi akan sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air. Cara kerjanya mirip kompor minyak tanah.

Merancang Sistem...

Ada banyak model akuaponik, mulai dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks, dan di sini saya akan berbagi untuk sistem yang sederhana, tujuannya supaya kita lebih mudah untuk memahami. Untuk sistem yang akan saya bagikan adalah akuaponik sistem pasang surut. Akuaponik sistem pasang surut adalah sistem dimana air di media tanam akan mengalami pasang surut secara otomatis dengan bantuan alat yang bernama bell siphon yang bisa kita buat sendiri.

Untuk membuat akuaponik pasang surut sederhana menurut saya, membutuhkan beberapa komponen utama antara lain,
1. Kolam ikan.
2. Pompa air.
3. Bak/wadah untuk menanam (grow bed)
4. Media tanam.
5. Bell Siphon.

1. Kolam Ikan
Untuk kolam, kita bisa menggunakan berbagai macam kolam, bisa kolam beton, kolam fiber, kolam terpal, kolam dari box ibc, dll. Mungkin bagi yang sudah memiliki kolam, kita bisa memanfaatkan.

2. Pompa air.
Dalam hal ini, pompa air yang dimaksud, adalah pompa air khusus kolam. Dalam memilih pompa air, kita harus menyesuaikan dengan volume dari kolam ikan, dalam arti pompa yang dipilih harus dapat menguras total air kolam ikan dalam satu jam. Jadi jika volume kolam 1000 liter, minimal pompa yang dipilih adalah pompa yang memiliki debit 1000 liter/jam. Tentu saja kita juga harus mempertimbangkan ketinggian dari media tanam yang akan kita aliri air, jadi perlu dilihat juga saat memilih pompa, berapa ketinggian yang dapat dijangkau oleh pompa tersebut, sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.

3. Bak/wadah untuk menanam (grow bed)
Ada banyak wadah yang bisa kita gunakan, tapi yang terpenting, wadah tersebut harus tahan air, tidak mudah pecah dan tidak bocor, karena wadah tersebut nantinya akan di isi media tanam dan selalu digenangi air dari kolam.
Untuk ukuran, sebaiknya memilih wadah jangan terlalu kecil, karena nanti tidak bisa berfungsi maksimal, dan hanya memuat sedikit tanaman, tapi juga jangan terlalu luas, karena jika terlalu luas maka air di dalam kolam bisa habis. Mungkin sebagai gambaran, jika luas kolam P x L = 1 m x 1 m dan tinggi 70 cm, kita bisa menyediakan wadah atau grow bed dengan luas yang sama 1 m x 1 m dan tinggi 30 cm. Nantinya, ketinggian air kolam hanya akan berkurang kira-kira setinggi 15-20 cm, hal tersebut, karena di dalam media tanam ada bagian yang selalu kering yaitu bagian permukaan, sekitar 5 cm, bagian yang mengalami pasang surut yaitu bagian tengah setinggi 15 cm dan bagian yang akan selalu tergenang air yaitu bagian bawah sekitar 5 cm.

4. Media tanam.
Untuk beberapa model akuaponik seperti rakit apung, NFT tidak memerlukan media, akan tetapi untuk pasang surut lebih sering memerlukan media tanam, meskipun bisa tanpa media. Media tanam memiliki beberapa fungsi yaitu, sebagai pijakan akar tanaman sehingga bisa berdiri dengan kuat, sebagai media filter dan sebagai tempat menempel bakteri nitrifikasi, karena bakteri tersebut bersifat nonmotil yaitu menempel pada suatu permukaan benda.
Untuk media tanam sendiri bisa bermacam-macam dan saya pernah mencoba beberapa seperti  batu kerakal, kerikil, arang kayu, pecahan genting, pecahan batu bata dan bisa juga dilakukan kombinasi batu krakal arang kayu dan tanah dengan menerapkan sistem pasang surut dikombinasikan dengan sistem sumbu.

5. Bell siphon
Bell siphon adalah suatu alat yang yang bekerja secara otomatis sehingga air di wadah atau grow bed bisa mengalami pasang surut. Alat tersebut dapat kita buat sendiri dengan mudah. Untuk membuat bell siphon bisa di artikel dengan judul Cara Membuat Bell Siphon

Untuk lebih memperjelas alur dalam akuaponik, saya coba tuangkan dalam gambar di bawah ini.

Skema Akuaponik (Aquaphonic)

Bakteri Baik...
Jika kita memang membuat sistem dari awal, maka setelah sistem jadi, kita perlu menumbuhkan bakteri baik, karena dalam sistem baru belum banyak bakteri baik. Untuk menumbuhkannya kita dapat melakukan dengan bebarapa cara
1. Menambahkan air dari kolam  milik orang lain atau tetangga he..., yang tentunya sistem kolamnya sudah matang.
2. Bisa juga dengan menambahkan dari air sungai, tapi tentu lebih beresiko, kita tentu sudah tahu bagaimana kondisi air sungai di sekitar kita, kecuali, sungai di sekitar kita memang masih jernih tidak banyak terkontaminasi limbah.
3. Sabar menunggu supaya sistem terbentuk sekitar 1 sampai 3 minggu.
4. Di toko ikan hias sebenarnya juga banyak dijual penumbuh bakteri baik, kita tinggal memasukkan dalam sistem sesuai takaran yang dianjurkan.

Untuk yang sudah memiliki kolam dan ingin membuat akuaponik tentu sudah tidak perlu menumbuhkan bakteri baik, karena kolam yang sudah matang biasanya banyak bakteri baik yang tinggal di bak filter seperti yang saya miliki he...

Cahaya...
Dalam menanam, cahaya sangat diperlukan, karena merupakan salah satu unsur pokok bagi tanaman untuk bisa tumbuh dengan subur. Jadi lebih baik, sebelum membuat akuaponik, pilih lokasi yang mendapatkan banyak sinar matahari, khususnya untuk media tanam. Mungkin bisa kita menerapkan sistem indoor dalam ruangan tertutup, tapi tentunya kita akan membutuhkan lampu khusus tanaman, dan di sisi lain kebutuhan listrik akan jauh lebih banyak.

Penanaman...
Dari pengalaman saya, untuk penanaman seperti, sawi, slada, loncang, sledri, bayam, tomat, kangkung, lebih baik jika tanaman di semai terlebih dahulu pada media tanah, setelah umur bibit sudah siap tanam, barulah kita pindah ke media tanam pada sistem akuaponik. Untuk cara menanam berbagai sayuran, tunggu di tulisan berikutnya.


Tambahan...
Dari pengalaman akuaponik mini yang pertama, di dalam media tanam ternyata banyak cacing entah datang dari mana, untuk itu, carilah cacing dan masukkan ke tempat media tanam, itu juga saya lakukan pada akuaponik adisi ke-2, karena kotoran cacing memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tanaman.

Menurut saya secara pribadi, setiap daerah atau negara memiliki keunikan masing-masing, mulai dari jenis ikan, tanaman, media tanam, iklim, dll, jadi petunjuk yang ada hanyalah sebagai dasar, dan kita masih bisa mengembangkan dengan cara kita masing-masing.
Ke depan, dunia akan semakin banyak kehilangan lahan untuk bercocok tanam, tentu kehadiran sistem akuaponik bisa menjadi solusi yang tepat.

Jika ada yang salah, mohon masukkannya.....Selamat mencoba, semoga bermanfaat.....

NB: Apa yang saya tulis di atas masih bersifat dasar, ada banyak hal yang belum bisa tersampaikan di sini, tapi seiring waktu, tambahan-tambahan yang juga tak kalah penting saya sampaikan pada postingan yang lain yang terkait dengan akuaponik.
Untuk kelanjutannya, bisa dibaca Membuat Akuaponik Yuk #2.


Ini saya coba bagikan video akuaponik dari kolam koi yang sudah ada dan kemudian saya upgrade menjadi akuaponik, untuk desain dan keterangan lengkap bisa dilihat di Akuaponik Kolam Koi II




    

Terimakasih..


Friday, 6 December 2013

Sayuran Organik Di Pekarangan - Pot

Berubah.. berubah... ya... setelah sekian lama kami menanam sayuran dengan menggunakan polibag, akhirnya kami harus mengakhirinya. Tentu perubahan itu bukan tanpa alasan, dan alasan kami adalah keindahan dan resapan air.
Kami menanam dengan memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah, tentu saja keindahan juga penting untuk kami. Setiap hari kami menatap pekarangan kami, dan sepertinya ada yang kurang enak dipandang, terutama polibagnya. Meskipun polibag diatur dengan rapi tetap saja kurang "sreg"... Yang membuat kami kurang "sreg" adalah ujung bagian atas, ketika masih awal mungkin masih rapi dengan bentuk yang masih melingkar, tapi lama-lama sering berjalannya waktu, ujung polibag mulai ga jelas bentuknya... mungkin saya kasih istilah "mleot" he..... 
Kondisi yang masih lumayan rapi
Bukan hanya masalah keindahan menurut kami, tapi waktu itu masalah resapan air yang menjadi kendala. Memang polibag memiliki lubang di bagian bawah, akan tetapi, masalah sering terjadi karena lubang sering tertutup papan penyangga, sehingga membuat tanaman yang kurang suka banyak air tumbuh tidak maksimal, bahkan untuk tanaman tertentu bisa mati. 
Pernah kami mengamati dan membedakan secara langsung tanaman sawi yang kami tanam. Waktu itu sudah waktunya panen, ada yang subur ada yang tidak dan kami berusaha mencari permasalahannya. Setelah mencari dan mencari, kami secara tidak sengaja merasakan perbedaan yaitu berat antara polibag dari sawi yang subur dan yang tidak, lalu kami keluarkan tanah di dalamnya. O..o..o... ternyata sawi yang subur memiliki tanah yang agak basah, sedangkan yang tidak subur tanahnya basah terutama di bagian bawah yang mengandung banyak air. Kami usut lebih jauh lagi kenapa bisa terjadi, dan yang menjadi "biang kerok", ternyata lubang untuk saluran air terhalang oleh papan.
Ya... itu sekilas alasan kenapa kami beralih menggunakan pot. Desain pot tentu lebih baik karena lebih kaku, lubang untuk saluran air lebih besar dan ujung pada bagian bawah terdapat kaki penyangga, sehingga lubang air tidak akan tertutup. 
Dalam cara kami menanam tidak ada perbedaan antara menggunakan pot dan polibag. Penyiraman, komposisi tanah, jarak tanam dan jumlah tanaman dalam satu pot tetap sama. Setelah sekian lama bahkan sampai sekarang menggunakan pot, kami dapat merasakan bahwa masalah yang kami alami ketika menggunakan polibag, semua telah sirna. 


Hijau..
Keindahan yang kami inginkan selama ini tercapai, sekarang dengan menanam menggunakan pot pekarangan kami menjadi lebih indah dan rapi.


Tentu lebih rapi.
Di mata terasa menyegarkan....

Kami juga kagum dengan kesuburannya.
Dari hasil panen, hampir semua tanaman bisa tumbuh subur, tentu juga karena dukungan si pembajak kecil  dan air kolam ikan

Mari.... dari sekarang kita olah setiap jengkal pekarangan kita untuk menjadi lebih bermanfaat bagi keluarga kita.....

Sekian dulu... selamat bertani.....

Wednesday, 4 December 2013

Masalah Seputar Bell Siphon

Ternyata semakin hari semakin banyak yang ingin menanam dengan sistem akuaponik (Aquaphonic). Memang sistem ini menarik, karena menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda, meskipun sebenarnya di alam bebas pun kita bisa banyak menemui, hanya saja kita belum mengenalnya. Dari tulisan saya yang berjudul "Cara membuat Bell Siphon" dan "Update-Cara Membuat Bell Siphon" ternyata banyak yang mencoba untuk mempraktekkannya. Dalam prosesnya, ternyata ada yang menemui permasalahan dan itu adalah sesuatu yang wajar, karena dengan masalah-masalah  itu sistem yang kita miliki bisa semakin lebih baik dan bahkan menjadi lebih sempurna. 
Pada tulisan ini, akhirnya saya berusaha mencoba merangkum permasalahan itu dan mencoba mencari solusinya. Tentu solusi itu saya dapatkan dengan cara melakukan eksperimen, karena dengan cara itulah saya bisa  benar-benar mendapatkan solusi terbaik.
Tapi saya bukanlah seorang ahli, jika memang ada yang menemukan solusi yang lebih baik dan benar tentu akan menjadi sebuah masukan yang sangat baik dan akhirnya sistem yang kita buat akan menjadi benar-benar sempurna, dan bagi pembaca yang tertarik tentu akan sangat-sangat berguna.


1. Apakah Menggunakan selang aerator adalah kebutuhan wajib ? 

Sistem air surut
Menggunakan selang aerator seperti apa yang saya buat adalah bukan kebutuhan wajib artinya kita bisa membuat sistem air surut tanpa menggunakan selang aerator. Kita bisa membuat titik terendah dengan membuat lubang di pralon secara langsung pada  sistem air surut. Sebagai gambaran seandainya kita ingin titik terendah air surut berada di sekitar titik 1, maka kita bisa membuat lubang di titik tersebut, demikian juga jika ingin titik terendah ada di sekitar titik 2, lubang dapat kita buat di sekitar titik tersebut, hal tersebut berlaku untuk titik-titik yang lain. Tapi tentu jangan membuat 2 titik secara langsung, ketika kita ingin titik terendah berada di titik 2, tetapi kita membuat lubang pada titik 2 dan pada titik 1 maka air surut terendah akan terjadi pada titik 1. 

2. Apakah Sistem air pasang bisa menggunakan ukuran yang lebih besar ?


Sistem air pasang

Tentu bisa, tapi ada yang perlu diperhatikan yaitu debit air. Semakin besar sistem pasang yang kita buat tentu harus diimbangi dengan debit air yang akan masuk ke sistem tersebut. Saya sudah mencoba bereksperimen dengan ukuran 1" dan memang bisa tapi degan debit yang lebih besar.
    
3. Air sudah mencapai pasang maksimal, tetapi tidak bisa surut.
Kemungkinan ada beberapa hal yang menyebabkan masalah tersebut, yaitu karena sistem yang mengalami kebocoran terutama pada bagian sistem air surut,  debit air yang terlalu kecil atau sebaliknya debit air yang terlalu besar. Jika kebocoran terjadi maka air yang masuk ke dalam sistem air pasang tidak bisa saling menutup, sehingga bisa digambarkan air sungai yang masuk dan keluar danau melalui sungai yang berbeda, demikian juga untuk debit air yang masuk terlalu kecil. Untuk debit yang terlalu besar yang melebihi debit maksimal dari pralon pada sistem air pasang maka tidak akan terjadi surut, bahkan yang terjadi air akan luber.

4. Apakah bagian perisai harus diberi lubang-lubang sampi ke ujung bagian atas ?
Tentu tidak perlu, hanya dari pengalaman, ketika media tanam sudah berjalan lama maka akan banyak akar tanaman dan endapan kotoran, hal tersebut tentu akan menyebabkan lubang-lubang tertutup dan air yang masuk ke bell siphon bisa terhambat, atau dengan kata lain semakin banyak lubang maka air yang akan keluar melalui bell siphon akan semakin lancar. 

5. Mengapa harus memakai pipa pralon, bukan memakai barang bekas seperti botol sprit, dll ?
Ya... alasan saya memakai pralon, karena masalah keawetan, keindahan dan kelancaran. Untuk hanya sekedar ujicoba dan belajar tentu tidak masalah, akan tetapi apabila sudah kita terapkan tentu berbeda. Kita tentunya tidak ingin banyak masalah terjadi, disisi lain kita berharap apa yang kita buat tentu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pada ujicoba saya yang pertama yaitu Akuaponik Mini bahan untuk bagian air pasang hanya menggunakan ujung dari botol sprit yang saya potong dan memang bisa berjalan dengan baik, akan tetapi semakin lama masalahpun semakin sering ditemui.

6. Mengatasi bell siphon karena debit air yang kurang.
Kita sudah terlanjur membuat bell siphon, tenyata setelah dicoba tidak berfungsi karena debit air yang terlalu kecil. Untuk mengatasinya, kita dapat memasukkan selang (panjang cukup 5 cm) ke dalam pralon pada sistem air pasang (lihat gambar di bawah).

Memasukkan selang ke sistem air pasang. 

Kebetulan kasus tersebut pernah saya alami. Air dari kolam saya alirkan menggunakan 1 pompa yang kemudian saya bagi empat untuk disalurkan ke masing-masing media tanam. Salah satu sistem sering mengalami masalah karena mendapatkan debit yang paling kecil. Akhirnya saya atasi dengan memasang selang ke sistem air pasang, dan sampai sekarang tidak bermasalah lagi. Ukuran pralon 3/4" dan selang 3/4" , supaya bisa masuk harus dilakukan pemaksaan  he......


Bisa memakai siku, masih kurang tambah increaser/reducer.


Atau kita dapat juga memberi siku (yang diberi tanda lingkaran pink), adanya siku akan sedikit menghambat laju dari air. Jika masih kurang bisa menambah pipa increaser/reducer (yang diberi tanda lingkaran kuning), hasilnya jauh lebih baik.

Jangan lupa untuk menjaga kebersihan pompa air kolam, bersihkan secara berkala untuk menjaga keawetan pompa dan tentunya menjaga kestabilan debit air. Jangan lupa pula membersihkan jalur pipa air, karena dalam waktu lama akan terdapat kotoran yang menghambat aliran air.

Sangat penting menjaga kebersihan pompa air kolam.

Mungkin sekian dulu, apabila ada kesulitan lain yang datang, tentu akan saya tambahkan.
Semakin lebih baik.... itu harapan untuk kita semua....
Semoga bermanfaat...

Sunday, 1 December 2013

Hama... Oh... Hama...

Mungkin akan sangat menjengkelkan saat melihat tanaman yang kita sayangi hancur karena hama ataupun peyakit, semua yang telah kita lakukan seolah-olah tiada gunanya. Masih beruntung jika hanya 1 atau 2 tanaman, bayangkan jika hampir semua tanaman terserang hama. Mungkin pengalaman itu pernah kita alami terutama bagi kita yang hoby dalam menanam. Apa yang harus kita lakukan, mungkin itu adalah pertanyaan yang sering timbul saat kita mengalami hal itu. 
Pengalaman itu pernah bahkan sering keluarga kami alami, terutama saat awal-awal kami menanam. Tanaman sawi sendok yang banyak dihinggapi hewan kecil seperti kutu, taneman seledri yang mengalami busuk akar akhirnya mati, tanaman loncang yang membusuk,  tomat yang berbuah lebat tiba-tiba ujung buahnya mengalami pembusukan, pohon cabe yang sudah berbuah tiba-tiba menguning dan akhirnya mati, Buah cabe, pepaya dan tomat yang buahnya membusuk dan serangan besar-besaran dari kelompok belalang. Itu adalah sebagian pengalaman yang benar-benar pernah kami alami dalam menanam di pekarangan kecil kami.

Contoh pengalaman yang pernah kami alami,
buah tomat yang mulai membesar, semua ujungnya membusuk.

Tidak hanya jengkel.... stres pun kami alami karena kami tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, mencari informasi di dunia maya, bahkan membeli buku yang khusus membahas penanggulangan hama kami coba. Yang lebih parah keyakinan kami hampir goyah, kami hampir menggunakan bahan kimia dalam menangani hama, memang... dengan bahan kimia mungkin semua hama bisa mati, akan tetapi tentu hewan lain yang sebenarnya menguntungkan pasti ikut mati juga, bukan hanya itu bahan kimia yang menempel pada tanaman tentu akan kita santap juga nantinya... Sebuah solusi yang kurang tepat saya rasa. 
Dari informasi-informasi yang telah kami dapat, kami memilih mengatasi dengan pestisida alami, dengan mengandalkan buah dan dedaunan. Tentu tidak semudah yang kita duga, mengapa...? Kita bisa lihat disekeliling kita, tanaman sudah mulai habis, mencari daun nimba, buah brotowali, daun tembakau, dll.. ternyata sudah susah. Kami pun mencoba meramu dari apa yang ada disekitar kami seperti cabe, daun tomat, daun pepaya, bawang putih, daun sirsat tapi sayang... tidak terlalu manjur.., hama-hama itu masih menjarah tanaman kami. Mungkin permasalahannya kami kurang tekun. Dan menyerah... itulah akhirnya yang kami lakukan.
Tentu menyerah bukan berarti kalah, kami tetap mencari alternatif lain. Pernah dengar pepatah mengatakan, mencegah lebih baik dari pada mengobati, nah..... dan itulah jalan yang akhirnya kami lakukan. 

Ya... langkah pencegahan akhirnya coba kami lakukan, tentu kami harus banyak belajar untuk melakukan nya, banyak membaca dari buku dan internet adalah jalannya. Memang tidak mudah melakukan pencegahan, tapi itu akan lebih baik dan hasilnya adalah apa yang telah kami rasakan saat ini. Saya pribadi pernah membaca, entah dari mana sumbernya... lupa...., apa yang dikatakan intinya adalah begini ketika tanaman itu bisa tumbuh dengan subur maka tanaman itu tidak akan mudah terserang penyakit. Kata-kata itu yang saya pegang, hingga saat ini.


Suaranya yang lucu membuat kami selalu terhibur.

Modal pengalaman yang telah kami dapatkan mengajarkan kami untuk bisa menjaga supaya tanaman yang kami tanam bisa tumbuh dengan dengan subur.

Unsur tanah...
Dari tulisan saya sebelumnya dengan judul Si Pembajak Kecil Yang Terabaikan, saya ingin menunjukkan bahwa tanah yang mengandung banyak nutrisi, tanah yang gembur adalah kondisi tanah yang sangat ideal untuk tanaman bisa tumbuh dengan subur. Selama ini, untuk menjaga tersedianya nutrisi, kami mengandalkan pupuk kandang dan kotoran ikan. Sejak awal akan menanam, pupuk kandang, cocopit, arang sekam padi dan tanah adalah standart kami, dan cacing tanah akan kami masukkan setelah persiapan tanah selesai. Dari pengalaman selama ini, tanpa adanya cacing tanah, semakin lama kondisi tanah akan semakin padat, dan air yang kami siramkan terlalu lama meresap dan tidak merata. Kondisi berbeda saat ada cacing tanah, setiap hari seperti ada kegiatan membajak di dalam tanah, air sangat cepat menyerap, dan tanah benar-benar gembur sehingga udara tersedia sangat banyak yang tentunya sangat baik untuk mikroba yang ada di sekitar akar tanaman. Unsur tanah dalam hal ini tentu harus mengandung banyak nutrisi dan gembur.

Unsur air...
Haus... tentu tanaman juga merasakan, untuk menjaga supaya tanaman tidak kehausan kita harus selalu menjaga jangan sampai tanaman kekurangan air. Saat tanaman mulai layu harus secepatnya kita siram jika tidak, jangan harap nyawanya akan tertolong he... Tentu kita tidak perlu menunggu tanaman layu, penyiraman seharusnya selalu dilakukan setiap hari. Dari pengalaman, saat musim hujan, kami melakukan penyiraman 2 hari sekali dan itu pada sore hari, tapi saat musim panas/kemarau harus setiap hari, karena air yang ada di tanah tentu juga mengalami penguapan. Selama ini kami selalu mengandalkan air kolam ikan untuk penyiraman. Pada tulisan saya sebelumnya dengan judul Hebatnya Air Kolam Ikan... saya ingin menunjukkan bahwa betapa air kolam ikan benar-benar menyuburkan, karena dengan menyiram menggunakan air kolam tidak hanya air tetapi pupuk juga didapatkan oleh tanaman. Itulah mengapa selama ini keluarga kami selalu mengandalkan air kolam ikan dalam penyiraman.

Unsur Cahaya...
Ketika unsur tanah dan air tercukupi belum tentu tanaman bisa tumbuh dengan subur. Pengalaman pertama dalam hidup yang saya alami tentang unsur cahaya adalah waktu saya masih tinggal di Panti Asuhan. Waktu itu saya menanam pohon tomat dalam satu bedeng, awalnya tomatpun tumbuh dengan subur tapi semakin lama pertumbuhan itu tidak biasa, tomat terus bertambah tinggi bahkan waktu itu lebih dari satu meter, pertumbuhan itu membuat pohon tomat saya menjadi rapuh dan mau tidak mau harus ditopang dengan bambu. Waktu itu saya kira tidak ada masalah, tapi setelah sekian  lama tumbuh ternyata buah yang dihasilkan sangat mengecewakan, kecil-kecil dan jumlahnya sedikit. Waktu itu saya belum begitu paham, tapi setelah bertahun tahun terus menanam akhirnya dari pengalaman yang didapatkan saya bisa semakin mengerti, dan akhirnya saya juga tahu mengapa waktu itu pertumbuhan tomat yang saya tanam terus tumbuh tinggi seolah-olah tidak terkendali, dan cahaya... itulah penyebabnya. Tanaman dalam hidupnya selalu berusaha untuk mendapatkan cahaya. Ketika sinar terhalang, maka jalan satu-satunya bagi tanaman adalah berusaha lebih tinggi dari apa yang menjadi penghalangnya, dan ketika cahaya itu tidak didapatkan sama sekali, akhirnya lama-kelamaan tanaman itu akan mati. Dari pengalaman itulah dalam setiap menanam, saya selalu mencari cara supaya tanaman saya bisa selalu mendapatkan cahaya. Dan mungkin perlu untuk dicatat, meskipun cahaya dibutuhkan tapi kadar itu berbeda untuk setiap tanaman.

Kesuburan yang terjaga adalah hal yang sangat penting untuk menjaga supaya tanaman tidak mudah terserang panyakit. Tentu ada hal-hal lain yang harus diperhatikan juga untuk menjaga supaya tanaman kita tidak terserang penyakit/hama.

Menjaga jarak tanam...
Ya.. dari pengalaman, tanaman yang terlalu berdekatan tentu tidak baik. Selain karena faktor nutrisi yang direbutkan, daun-daun dari tanaman yang berdekatan bisa saling tumpang tindih sehingga cahaya yang didapatkan kurang maksimal. Selain itu, jika dalam menanam terlalu dekat satu dengan yang lain, biasanya derah tersebut akan sangat rimbun, nah... biasanya hama tanaman akan sangat suka ditempat itu. Mungkin seperti kita, tentu kita lebih suka di tempat yang sejuk daripada yang panas.

Lingkungan tempat menanam...
Pernah saya membaca sebuah buku, bahwa tempat kita menanam sebaiknya memiliki tempat yang bersih, dalam artian jangan sampai tempat kita menanam disekitarnya banyak terdapat tumpukan sampah daun, karena hama juga banyak bersembunyi ditumpukan tersebut. Memang itu benar, perbedaan memang terjadi ketika saya mulai membersihkan lingkungan tempat menanam, karena sebelumnya sampah daun kami kumpulkan dibawah tempat kami menanam.

Biarkan alam bekerja...
Memang saya bingung mencari kata-kata yang pas, tapi maksud saya begini, di alam ini tentu ada yang namanya rantai makanan, tentu kita sudah tau.... Nah kita hanya perlu mengenal sedikit saja dari binatang disekitar kita, dan kemudian membiarkan mereka hidup dengan caranya sendiri selama itu tidak mengganggu dan merugikan kita. Di pekarangan kami, kodok bencok kami biarkan asalkankan jumlahnya tidak terlalu banyak, karena mereka meyantap serangga yang ada di tanaman, cicak yang ada ditempat kami juga banyak, mereka berjasa karena selain nyamuk mereka juga menyantap kupu-kupu, yang kita tahu kupu kupu bisa menjelma menjadi ulat. Laba-laba, saya sendiri sering melihat laba-laba dengan jaringnya menangkap belalang dan hewan kecil lain. Dan yang baru saya tahu setelah membaca majalah TRUBUS adalah, bahwa capung adalah sahabat petani.  Tentu masih banyak hewan lain yang berjasa membantu kita, hanya kita terkadang tidak mau tahu dan akhirnya mengusir bahkan membunuh mereka.

Menanam secara tumpang sari...
Cara ini secara tidak sengaja kami lakukan, karena kami ingin supaya sebagian besar sayuran yang ingin kami masak tersedia dipekarangan kami. Ternyata cara ini memiliki manfaat dalam pengendalian hama. Dan yang sedikit saya tau, bahwa menanam dengan berbagai jenis sayuran akan membuat hama terganggu, karena setiap tanaman memiliki aroma yang berbeda-beda, atau bahasa orang awam seperti saya hama akan bingung memilih tanaman kesukaannya...

Tangan kita jangan malas...
Kita sendirilah yang akhirnya juga berperan mengendalikan hama. Untuk ulat, belalang kami selalu menangkap dengan tangan kami sendiri, selain karena mereka merugikan, mereka adalah makanan bergizi untuk ikan-ikan kami. Di belakang tempat kami tinggal kebetulan masih berupa hamparan sawah, saat musim panen tiba, sudah pasti pekarangan kami diserbu belalang, mengandalkan binatang predator tentu tidak mungkin, jadi kami yang harus membantu mereka.


Hama memang tidak akan pernah bisa sirna meskipun mereka merugikan kita, tapi di alam ini kita tidak hidup sendiri, banyak makluk hidup lain yang menggantungkan hidupnya pada hama itu. Selama ini, kami hanya percaya bahwa alam sudah memberi yang terbaik, sekarang tinggal bagaimana kita bisa menyelaraskan diri dengan alam sekitar kita.
Dan yang perlu menjadi catatan, mulai sekarang sebisa mungkin dalam mengendalikan hama jangan menggantungkan pada obat kimia, karena keberadaanya justru akan menghancurkan kehidupan kita, dan kelak anak cucu kita tidak akan pernah menikmati alam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini.

Mungkin itu sekelumit pengalaman kami dalam menjaga tanaman dan lingkungan kami... semoga bermanfaat...

Thursday, 28 November 2013

Hebatnya Air Kolam Ikan...

Rasanya perlu kembali ke masa lalu ke tempat dimana saya dibesarkan, yaitu di Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran Bantul. Dulu saat saya masih kecil, kami anak panti sudah diajarkan bercocok tanam, baik di sawah maupun di kebun belakang milik panti. Untuk kebun,  setiap hari kami harus merawat sayuran yang kami tanam, ada bayam, tomat, cabai, sawi, dll. Dalam menanam, kami diajarkan menanam dengan menggunakan pupuk kandang yang kami olah dari kotoran ternak seperti kambing, sapi, yang kami pelihara. Dalam hal penyiraman, tidak diperbolehkan menggunakan air ledeng/kran, tapi harus menggunakan air dari kolam ikan tempat kami memelihara lele.

Foto jadul saat kami di sawah sekitar 20 tahun yang lalu.
Dan sekarang bukanlah masa lalu, tapi kebiasaan hidup di masa lalu bisa mengakar dalam kehidupan hingga saat ini, bahkan hebatnya lagi bisa membentuk suatu karakter, tidak percaya...? silahkan ingat masa lalu anda dan bandingkan dengan keadaan anda sekarang he... he.... Saat ini saya sudah berkeluarga, kebiasaan menanam ternyata telah mengakar dalam diri saya, sehingga sesibuk apapun kegiatan saya, setiap sore sepulang kerja saya dan istri selalu sempatkan untuk merawat tanaman di pekarangan mini keluarga kami. 
Perawatan terhadap tanaman kamipun tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan di panti. Untuk masalah pemupukan, pupuk kandang masih andalan saya dan tetap akan selalu menjadi andalan selama saya masih menanam. Tak kalah penting adalah penyiraman, ibarat manusia tanpa air sudah pasti manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup. Seperti apa yang telah menjadi kebiasaan saya di panti, meskipun air ledeng lancar, selang panjang tersedia, tapi tetap saya akan mengandalkan air kolam yang penuh dengan limbah kotoran ikan. 
Sejak saya di panti dulu sampai sekitar 2 tahun yang lalu, saya masih belum tahu secara pasti apa benar air kolam bisa menyuburkan tanaman. Hanya keyakinanlah yang membuat saya tetap mengandalkan air kolam untuk penyiraman. Dari tanaman yang saya miliki memang tumbuh subur, tapi tentu kesuburan itu di dukung oleh banyak faktor, tidak hanya faktor air kolam semata.

Menanam saja tentu tidaklah cukup, kita perlu terus belajar untuk lebih memperdalam ilmu dalam menanam, tentu dengan tujuan untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dan mendapatkan ilmu yang pasti untuk diterapkan. Melalui internet, bertanya kepada orang yang berpengalaman dan membaca buku adalah langkah yang saya lakukan. Setiap bulan keluarga kami berlangganan majalah TRUBUS, dan kebetulan ada sebuah artikel yang membahas tentang pengalaman seorang petani buah naga. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa salah faktor keberhasilannya dalam menanam buah naga adalah berkat air kolam ikan yang selalu dipakai dalam penyiraman. Dari situlah saya mulai berfikir, berarti memang benar bahwa air kolam ikan dapat menambah kesuburan tanaman. Satu bukti ada tentu belum cukup, perlu bukti lain.

Limbah dari ikan-ikan ini saya manfaatkan untuk menyiram tanaman.

Di bak filter inilah saya selalu mengambil limbah kotoran ikan.

Dalam berselancar di dunia maya, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah artikel tentang aquaphonic, entah sebuah kebetulan atau apa, saya tak pernah tau, masih sebuah misteri he.... Dengan apa yang saya temukan itu saya semakin mempelajari dan akhirnya praktek langsung adalah jalan selanjutnya sebagai pembuktian. O iya pengalaman aquaphonic sudah saya bagikan di blog saya dengan judul "Aquaphonic Mini"  dan " Aquaphonic Edisi ke-2"  monggo kalau mau baca he....
Dalam aquaphonic, media menanam tidak menggunakan tanah, tapi menggunakan batu kerikil, tentu tidak ada nutrisi yang didapat dari batu kecil-kecil itu. Supaya tanaman bisa hidup jalan satu-satunya hanya mengandalkan air kolam ikan yang dialirkan ke batu kerikil itu. Tentunya timbul pertanyaan, apakah air kolam ikan dapat diandalkan?, dan pertanyaan itu akhirnya terjawab, bahwa air kolam ikan dapat diandalkan. Dari hasilnya saya tidak pernah menduga, tanaman bisa tumbuh subur dan bisa dipanen.

Dan hingga akhirnya... keyakinan yang saya anut selama ini tentang limbah yang menyuburkan dari kolam ikan ternyata telah TERBUKTI dan sah secara meyakinkan... hehe.. Saya sebagai orang awam hanya bisa menjelaskan begini, bahwa kotoran ikan memang mengandung zat amoniak, oleh mikroba baik dan cacing yang ada disekitar akar tanaman, amoniak tadi diubah menjadi zat lain, yang ternyata zat lain itu adalah nutrisi yang sangat diperlukan oleh tumbuhan.

Air kolam untuk setiap tanaman.

Ternyata proses pembuktian "limbah" yang menyuburkan harus melalui jalan yang sangat panjang, dan keyakinan yang teguh mampu menghantarkannya.
Nah saran saya untuk yang mempunyai kolam ikan, jangan buang sia-sia air kotornya, gunakanlah untuk menyiram tanaman setiap hari.

Anggrek ini hanya saya siram air kolam setiap 2 hari sekali.
Saya kasih tambahan ya... Menyiram dengan air kolam memang tidak semudah menggunakan air ledeng/kran, tapi percayalah kita akan mendapatkan manfaat lain yaitu kesehatan tubuh kita terjaga karena aktivitas kita menyiram tanpa menggunakan ledeng/kran.


Lebih dekat ya....


Bunga Anggrek memang cantik.

















Selamat menyiram.......

NB :
Dari Lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terimakasih teruntuk Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran Bantul Yogyakarta, khususnya Suster Armella CB (Suster yang benar-benar luar biasa), Para Pendamping Anak, teman seperjuangan di panti dan Para Suster Konggregasi Santo Carolus Boromeus... terimakasih atas CINTA dan KASIH-nya yang sungguh luar biasa.

Tuesday, 26 November 2013

Si Pembajak Kecil Yang Terabaikan..

Tak kenal maka tak sayang, rasanya benar juga. Awal pertama kali menanam di pekarangan kecil kami, tidak pernah sedikitpun terfikirkan tentang makluk kecil yang bernama cacing tanah. 
Pada Pertengahan tahun 2012, kami (saya dan istri) mengikuti kursus bercocok tanam organik, dan tujuan utama kami adalah untuk menambah ilmu tentang menanam khususnya secara organik. Dalam proses kursus, meskipun menurut kami agak mengecewakan, tapi masih ada sedikit ilmu yang kami serap, terutama manfaat cacing tanah untuk tanaman. Kebetulan tempat kami kursus memelihara cacing tanah untuk percontohan, beberapa minggu setelah kursus kami mencoba menghubungi tempat kami kursus hanya untuk meminta cacing tanah, dan akhirnya karena kebaikan hati mereka, kami pulang dengan oleh-oleh cacing hidup.
Karena belum paham, kami mencoba memelihara di tanah yang sudah kami gali dan kami isi pupuk kandang, harapan kami semoga cacing-cacing kami dapat beranak pinak dan menghasilkan kotoran yang dapat kami ambil manfaatnya untuk tanaman kami. Mungkin karena jarang kami rawat dan salah dalam penempatan, saat kami ingin melihat perkembangannya, ternyata cacing kami telah hilang entah kemana. 

Beginilah kami memelihara cacing, yang akhirnya lenyap.
Rupanya kami masih beruntung, karena lenyapnya cacing bukan karena predator. Saat kami mengisi polibag dan pot dengan pupuk kandang yang kami timbun di sebelah kami memalihara cacing, kami dapati banyak cacing. Ternyata selama ini cacing yang kami pelihara hanya bermigrasi ke tempat yang bisa membuat mereka merasa damai he.... Seiring waktu yang terus berjalan, dan cacing kami pun telah beranak pinak.
Hari berganti... kami tak mengira sayuran kami tumbuh sangat subur, meskipun hanya di pot yang berukuran kecil. Dari berbagai tanaman sayur yang tumbuh subur, ada satu tanaman yang sepertinya membuat seolah-olah mata saya selalu tertuju padanya, dan itu adalah loncang atau nama lainnya daun bawang. Jujur saja baru kali ini menanam loncang bisa tumbuh sangat subur. Selama saya menanam loncang, yang sering terjadi adalah mati, kalaupun hidup tidak bisa maksimal, hanya kurus-kurus, mungkin seperti saya wkkwkk..... Saya bahkan sering berfikir, apakah menanam loncang sesusah ini ?

Inilah loncang yang membuatku penasaran.
Rasa penasaran mulai sering menghinggapi pikiranku, dan yang menjadi pertanyaan "apa yang membuat loncang bisa tumbuh subur " ? Mungkin jawaban itu telah terpecahkan, dan tentu karena ada bukti kuat yang menunjukkan pada jawaban itu, tentunya itu menurut pendapat saya pribadi. Dari beberapa kali menanam, antara yang gagal, kurus dan yang berhasil ini, perbedaan yang terlihat adalah pada tanahnya. Loncang subur yang berhasil saya tanam ternyata dipenuhi kotoran cacing yang bentuknya seperti pelet kecil-kecil.

Tanah pada tanaman loncang yang banyak kotoran cacing.
Jika dulu menanam loncang adalah sesuatu yang susah, berbeda untuk sekarang, "mudah" itu kata-kata yang pas. Dari pengalaman itulah, saya menanam beberapa pohon lagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Dan hasilnya, semua terlihat menggiurkan...

Dan semuanya bisa tumbuh subur.

Tentu yang patut diberi penghargaan adalah Si Pembajak Kecil Yang Terabaikan, berkat jasanya tanah menjadi gembur dan banyak nutrisi sehingga tanaman menjadi subur. Dan sampai saat ini, cacing tanah adalah salah satu makluk hidup yang kami cintai. Saat kami mengolah tanah, kami akan sangat hati-hati, kami tidak ingin melukai cacing kecil kami. Meskipun kami memelihara banyak ikan, tapi pamali bagi kami untuk menyerahkan nyawa cacing tanah kami hanya untuk ikan kami.

Di bawah pot tempat kami menanam, ada banyak cacing tanah.
Setelah kami mengenal dan mengerti, tentu cara menanam kami sedikit ada perubahan, di dalam setiap pot atau polibag tempat kami menanam, kami pastikan ada cacing tanah di dalamnya. Berkat jasanya menggemburkan tanah saya memberi julukan Si Pembajak Kecil, o iya kotoran cacing biasanya disebut kascing.

Terlihat banyak kotoran cacing tanah di sekitar pot.

Pot kecil yang dipenuhi dengan kotoran cacing tanah.


Mulai saat ini, jangan sia-siakan cacing tanah di sekitar kita, jangan lihat betapa menjijikkan tubuhnya, tapi lihatlah betapa dia sangat berjasa untuk kehidupan kita... Untuk Si Pembajak Kecil... terimakasih atas jasamu....

Friday, 22 November 2013

Organik Di Pekarangan Rumah - Polibag

Seiring berjalannya waktu, tempat kami menanam pun juga berubah, alasan utama adalah sinar matahari. Kebetulan pekarangan kami dikelilingi oleh tembok tinggi, yang menyebabkan sinar mentari pagi terhalang. Untuk mendapatkan mentari pagi lebih banyak, jalan satu satunya adalah meninggikan tempat kami menanam. 

Setelah kami rubah, dengan menggunakan kayu bekas.
Karena posisi menanam tidak langsung di tanah, maka kami menggunakan media tempat penanaman dari polibag. Dan untuk isinya menggunakan campuran pupuk kandang (kompos), cocopit, dan arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1. Dari awal hingga saat ini, kami benar-benar tanpa menggunakan pupuk kimia, karena keluarga kami sadar bahwa hasilnya kamilah yang akan menyantapnya. 


Pembibitan yang kami lakukan.
Berbagai cara pembibitan telah kami lakukan, ada yang menggunakan gelas botol aqua, pot panjang, dll, tapi menurut saya menggunakan besek inilah yang paling berhasil. 

Caisin sendok koleksi kami.
Slada yang menggiurkan kesukaan istri saya.






Kailan yang pernah kami tanam.
Bayam merah.






Meskipun kami menggunakan polibag, untuk sayuran dan buah tertentu kami masih mengandalkan penanaman di tanah secara langsung, karena hasilnya bisa lebih maksimal.

Tomat terhebat yang pernah kami tanam.


Buncis pertama kami, dan kami sering santap untuk lalap.


Dan yang sampai saat ini masih bertahan adalah Marqisa Jumbo favorit kami. Awalnya kami hanya diberi bibit yang masih kecil. Dan setelah berbuah kami tak menyangka buahnya bisa sangat besar. Kami pernah mengolah untuk sayur, dan rasanya enak juga. Saat buahnya tidak banyak kami buat juss, cukup tambah sedikit gula pasir dan jeruk nipis sedikit rasanya uenaakkkk....  



Saat marqisa kami berbuah banyak, tetanggapun kebagian.


Kami abadikan buah perdana marqisa kami, besar bukan...
Sekian dulu ya.. masih banyak pengalaman yang akan kami bagikan di episode selanjutnya... 



Mari kita menanam untuk diri kita, keluarga,  lingkungan dan bumi kita tercinta.....