Thursday, 28 November 2013

Hebatnya Air Kolam Ikan...

Rasanya perlu kembali ke masa lalu ke tempat dimana saya dibesarkan, yaitu di Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran Bantul. Dulu saat saya masih kecil, kami anak panti sudah diajarkan bercocok tanam, baik di sawah maupun di kebun belakang milik panti. Untuk kebun,  setiap hari kami harus merawat sayuran yang kami tanam, ada bayam, tomat, cabai, sawi, dll. Dalam menanam, kami diajarkan menanam dengan menggunakan pupuk kandang yang kami olah dari kotoran ternak seperti kambing, sapi, yang kami pelihara. Dalam hal penyiraman, tidak diperbolehkan menggunakan air ledeng/kran, tapi harus menggunakan air dari kolam ikan tempat kami memelihara lele.

Foto jadul saat kami di sawah sekitar 20 tahun yang lalu.
Dan sekarang bukanlah masa lalu, tapi kebiasaan hidup di masa lalu bisa mengakar dalam kehidupan hingga saat ini, bahkan hebatnya lagi bisa membentuk suatu karakter, tidak percaya...? silahkan ingat masa lalu anda dan bandingkan dengan keadaan anda sekarang he... he.... Saat ini saya sudah berkeluarga, kebiasaan menanam ternyata telah mengakar dalam diri saya, sehingga sesibuk apapun kegiatan saya, setiap sore sepulang kerja saya dan istri selalu sempatkan untuk merawat tanaman di pekarangan mini keluarga kami. 
Perawatan terhadap tanaman kamipun tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan di panti. Untuk masalah pemupukan, pupuk kandang masih andalan saya dan tetap akan selalu menjadi andalan selama saya masih menanam. Tak kalah penting adalah penyiraman, ibarat manusia tanpa air sudah pasti manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup. Seperti apa yang telah menjadi kebiasaan saya di panti, meskipun air ledeng lancar, selang panjang tersedia, tapi tetap saya akan mengandalkan air kolam yang penuh dengan limbah kotoran ikan. 
Sejak saya di panti dulu sampai sekitar 2 tahun yang lalu, saya masih belum tahu secara pasti apa benar air kolam bisa menyuburkan tanaman. Hanya keyakinanlah yang membuat saya tetap mengandalkan air kolam untuk penyiraman. Dari tanaman yang saya miliki memang tumbuh subur, tapi tentu kesuburan itu di dukung oleh banyak faktor, tidak hanya faktor air kolam semata.

Menanam saja tentu tidaklah cukup, kita perlu terus belajar untuk lebih memperdalam ilmu dalam menanam, tentu dengan tujuan untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dan mendapatkan ilmu yang pasti untuk diterapkan. Melalui internet, bertanya kepada orang yang berpengalaman dan membaca buku adalah langkah yang saya lakukan. Setiap bulan keluarga kami berlangganan majalah TRUBUS, dan kebetulan ada sebuah artikel yang membahas tentang pengalaman seorang petani buah naga. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa salah faktor keberhasilannya dalam menanam buah naga adalah berkat air kolam ikan yang selalu dipakai dalam penyiraman. Dari situlah saya mulai berfikir, berarti memang benar bahwa air kolam ikan dapat menambah kesuburan tanaman. Satu bukti ada tentu belum cukup, perlu bukti lain.

Limbah dari ikan-ikan ini saya manfaatkan untuk menyiram tanaman.

Di bak filter inilah saya selalu mengambil limbah kotoran ikan.

Dalam berselancar di dunia maya, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah artikel tentang aquaphonic, entah sebuah kebetulan atau apa, saya tak pernah tau, masih sebuah misteri he.... Dengan apa yang saya temukan itu saya semakin mempelajari dan akhirnya praktek langsung adalah jalan selanjutnya sebagai pembuktian. O iya pengalaman aquaphonic sudah saya bagikan di blog saya dengan judul "Aquaphonic Mini"  dan " Aquaphonic Edisi ke-2"  monggo kalau mau baca he....
Dalam aquaphonic, media menanam tidak menggunakan tanah, tapi menggunakan batu kerikil, tentu tidak ada nutrisi yang didapat dari batu kecil-kecil itu. Supaya tanaman bisa hidup jalan satu-satunya hanya mengandalkan air kolam ikan yang dialirkan ke batu kerikil itu. Tentunya timbul pertanyaan, apakah air kolam ikan dapat diandalkan?, dan pertanyaan itu akhirnya terjawab, bahwa air kolam ikan dapat diandalkan. Dari hasilnya saya tidak pernah menduga, tanaman bisa tumbuh subur dan bisa dipanen.

Dan hingga akhirnya... keyakinan yang saya anut selama ini tentang limbah yang menyuburkan dari kolam ikan ternyata telah TERBUKTI dan sah secara meyakinkan... hehe.. Saya sebagai orang awam hanya bisa menjelaskan begini, bahwa kotoran ikan memang mengandung zat amoniak, oleh mikroba baik dan cacing yang ada disekitar akar tanaman, amoniak tadi diubah menjadi zat lain, yang ternyata zat lain itu adalah nutrisi yang sangat diperlukan oleh tumbuhan.

Air kolam untuk setiap tanaman.

Ternyata proses pembuktian "limbah" yang menyuburkan harus melalui jalan yang sangat panjang, dan keyakinan yang teguh mampu menghantarkannya.
Nah saran saya untuk yang mempunyai kolam ikan, jangan buang sia-sia air kotornya, gunakanlah untuk menyiram tanaman setiap hari.

Anggrek ini hanya saya siram air kolam setiap 2 hari sekali.
Saya kasih tambahan ya... Menyiram dengan air kolam memang tidak semudah menggunakan air ledeng/kran, tapi percayalah kita akan mendapatkan manfaat lain yaitu kesehatan tubuh kita terjaga karena aktivitas kita menyiram tanpa menggunakan ledeng/kran.


Lebih dekat ya....


Bunga Anggrek memang cantik.

















Selamat menyiram.......

NB :
Dari Lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terimakasih teruntuk Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran Bantul Yogyakarta, khususnya Suster Armella CB (Suster yang benar-benar luar biasa), Para Pendamping Anak, teman seperjuangan di panti dan Para Suster Konggregasi Santo Carolus Boromeus... terimakasih atas CINTA dan KASIH-nya yang sungguh luar biasa.

Tuesday, 26 November 2013

Si Pembajak Kecil Yang Terabaikan..

Tak kenal maka tak sayang, rasanya benar juga. Awal pertama kali menanam di pekarangan kecil kami, tidak pernah sedikitpun terfikirkan tentang makluk kecil yang bernama cacing tanah. 
Pada Pertengahan tahun 2012, kami (saya dan istri) mengikuti kursus bercocok tanam organik, dan tujuan utama kami adalah untuk menambah ilmu tentang menanam khususnya secara organik. Dalam proses kursus, meskipun menurut kami agak mengecewakan, tapi masih ada sedikit ilmu yang kami serap, terutama manfaat cacing tanah untuk tanaman. Kebetulan tempat kami kursus memelihara cacing tanah untuk percontohan, beberapa minggu setelah kursus kami mencoba menghubungi tempat kami kursus hanya untuk meminta cacing tanah, dan akhirnya karena kebaikan hati mereka, kami pulang dengan oleh-oleh cacing hidup.
Karena belum paham, kami mencoba memelihara di tanah yang sudah kami gali dan kami isi pupuk kandang, harapan kami semoga cacing-cacing kami dapat beranak pinak dan menghasilkan kotoran yang dapat kami ambil manfaatnya untuk tanaman kami. Mungkin karena jarang kami rawat dan salah dalam penempatan, saat kami ingin melihat perkembangannya, ternyata cacing kami telah hilang entah kemana. 

Beginilah kami memelihara cacing, yang akhirnya lenyap.
Rupanya kami masih beruntung, karena lenyapnya cacing bukan karena predator. Saat kami mengisi polibag dan pot dengan pupuk kandang yang kami timbun di sebelah kami memalihara cacing, kami dapati banyak cacing. Ternyata selama ini cacing yang kami pelihara hanya bermigrasi ke tempat yang bisa membuat mereka merasa damai he.... Seiring waktu yang terus berjalan, dan cacing kami pun telah beranak pinak.
Hari berganti... kami tak mengira sayuran kami tumbuh sangat subur, meskipun hanya di pot yang berukuran kecil. Dari berbagai tanaman sayur yang tumbuh subur, ada satu tanaman yang sepertinya membuat seolah-olah mata saya selalu tertuju padanya, dan itu adalah loncang atau nama lainnya daun bawang. Jujur saja baru kali ini menanam loncang bisa tumbuh sangat subur. Selama saya menanam loncang, yang sering terjadi adalah mati, kalaupun hidup tidak bisa maksimal, hanya kurus-kurus, mungkin seperti saya wkkwkk..... Saya bahkan sering berfikir, apakah menanam loncang sesusah ini ?

Inilah loncang yang membuatku penasaran.
Rasa penasaran mulai sering menghinggapi pikiranku, dan yang menjadi pertanyaan "apa yang membuat loncang bisa tumbuh subur " ? Mungkin jawaban itu telah terpecahkan, dan tentu karena ada bukti kuat yang menunjukkan pada jawaban itu, tentunya itu menurut pendapat saya pribadi. Dari beberapa kali menanam, antara yang gagal, kurus dan yang berhasil ini, perbedaan yang terlihat adalah pada tanahnya. Loncang subur yang berhasil saya tanam ternyata dipenuhi kotoran cacing yang bentuknya seperti pelet kecil-kecil.

Tanah pada tanaman loncang yang banyak kotoran cacing.
Jika dulu menanam loncang adalah sesuatu yang susah, berbeda untuk sekarang, "mudah" itu kata-kata yang pas. Dari pengalaman itulah, saya menanam beberapa pohon lagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Dan hasilnya, semua terlihat menggiurkan...

Dan semuanya bisa tumbuh subur.

Tentu yang patut diberi penghargaan adalah Si Pembajak Kecil Yang Terabaikan, berkat jasanya tanah menjadi gembur dan banyak nutrisi sehingga tanaman menjadi subur. Dan sampai saat ini, cacing tanah adalah salah satu makluk hidup yang kami cintai. Saat kami mengolah tanah, kami akan sangat hati-hati, kami tidak ingin melukai cacing kecil kami. Meskipun kami memelihara banyak ikan, tapi pamali bagi kami untuk menyerahkan nyawa cacing tanah kami hanya untuk ikan kami.

Di bawah pot tempat kami menanam, ada banyak cacing tanah.
Setelah kami mengenal dan mengerti, tentu cara menanam kami sedikit ada perubahan, di dalam setiap pot atau polibag tempat kami menanam, kami pastikan ada cacing tanah di dalamnya. Berkat jasanya menggemburkan tanah saya memberi julukan Si Pembajak Kecil, o iya kotoran cacing biasanya disebut kascing.

Terlihat banyak kotoran cacing tanah di sekitar pot.

Pot kecil yang dipenuhi dengan kotoran cacing tanah.


Mulai saat ini, jangan sia-siakan cacing tanah di sekitar kita, jangan lihat betapa menjijikkan tubuhnya, tapi lihatlah betapa dia sangat berjasa untuk kehidupan kita... Untuk Si Pembajak Kecil... terimakasih atas jasamu....

Friday, 22 November 2013

Organik Di Pekarangan Rumah - Polibag

Seiring berjalannya waktu, tempat kami menanam pun juga berubah, alasan utama adalah sinar matahari. Kebetulan pekarangan kami dikelilingi oleh tembok tinggi, yang menyebabkan sinar mentari pagi terhalang. Untuk mendapatkan mentari pagi lebih banyak, jalan satu satunya adalah meninggikan tempat kami menanam. 

Setelah kami rubah, dengan menggunakan kayu bekas.
Karena posisi menanam tidak langsung di tanah, maka kami menggunakan media tempat penanaman dari polibag. Dan untuk isinya menggunakan campuran pupuk kandang (kompos), cocopit, dan arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1. Dari awal hingga saat ini, kami benar-benar tanpa menggunakan pupuk kimia, karena keluarga kami sadar bahwa hasilnya kamilah yang akan menyantapnya. 


Pembibitan yang kami lakukan.
Berbagai cara pembibitan telah kami lakukan, ada yang menggunakan gelas botol aqua, pot panjang, dll, tapi menurut saya menggunakan besek inilah yang paling berhasil. 

Caisin sendok koleksi kami.
Slada yang menggiurkan kesukaan istri saya.






Kailan yang pernah kami tanam.
Bayam merah.






Meskipun kami menggunakan polibag, untuk sayuran dan buah tertentu kami masih mengandalkan penanaman di tanah secara langsung, karena hasilnya bisa lebih maksimal.

Tomat terhebat yang pernah kami tanam.


Buncis pertama kami, dan kami sering santap untuk lalap.


Dan yang sampai saat ini masih bertahan adalah Marqisa Jumbo favorit kami. Awalnya kami hanya diberi bibit yang masih kecil. Dan setelah berbuah kami tak menyangka buahnya bisa sangat besar. Kami pernah mengolah untuk sayur, dan rasanya enak juga. Saat buahnya tidak banyak kami buat juss, cukup tambah sedikit gula pasir dan jeruk nipis sedikit rasanya uenaakkkk....  



Saat marqisa kami berbuah banyak, tetanggapun kebagian.


Kami abadikan buah perdana marqisa kami, besar bukan...
Sekian dulu ya.. masih banyak pengalaman yang akan kami bagikan di episode selanjutnya... 



Mari kita menanam untuk diri kita, keluarga,  lingkungan dan bumi kita tercinta.....


Thursday, 21 November 2013

Organik Di Pekarangan Rumah

Saat ini, rasanya sudah sangat susah mencari bahan pangan yang benar-benar bebas dari bahan kimia. Sayuran dan makanan ringan yang banyak kita jumpai di pasar atau di toko-toko hampir semua sudah terkontaminasi bahan kimia. Bukan hanya sayuran, ternakpun tak luput dari bahan-bahan kimia, sungguh memprihatinkan... Mungkin, pemikiran orang saat ini karena lebih mengutamakan keuntungan materi semata tanpa melihat lebih jauh dampak yang akan diakibatkan nanti untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. 
Berawal dari keprihatinan itulah, saya memulainya dari keluarga saya sendiri untuk sebisa mungkin menghindari bahan pangan yang mengandung banyak bahan kimia, terutama menu harian. Mungkin tidak bisa 100%, tapi berusaha untuk memulai sedikit demi sedikit tentu sudah lebih baik. Menanam secara organik adalah salah satu cara yang saat ini saya lakukan bersama istri tercinta. Sejak sekitar 2 tahun yang lalu setelah pernikahan, kami mencoba membudidayakan pekarangan yang kami miliki, memang tidak terlalu besar tapi dengan niat dan kreativitas, kami yakin bisa melakukannya. 
Hingga saat ini, kami telah bisa mengkonsumsi sayuran dari pekarangan kecil kami sendiri, seperti sawi, bayam, seledri, cabe, tomat, loncang, daun pepaya, slada, markisa jumbo, pare, gambas, dll. Yang kami lakukan adalah mencoba menanam dengan berbagai jenis sayuran, tidak harus banyak, yang penting ada. Di sisi lain, menu yang kami santap tiap hari menyesuaikan apa yang kami miliki di pekarangan kami, dan itu menambah rasa syukur dari apa yang ada pada keluarga kami. 
Di blog ini, saya ingin berbagi dalam bentuk foto dari masa ke masa sejak 2 tahun lalu hingga saat ini dalam upaya keluarga kami untuk menyediakan bahan pangan organik dari pekarangan kami sendiri. 

Awal, saat kami memulai...

Tidak mudah bagi kami untuk memulainya, rumah yang kami tempati awalnya banyak dipenuhi cor dari semen, dan hanya sedikit ruang untuk menanan. Akhirnya, perlahan-lahan dibantu dengan teman-teman saya, kami mulai membongkar cor yang ada di sekitar pekarangan kami.

Saat kami memulai, ada kangkung, sawi, loncang.

Mungkin tidak seberapa hasil yang kami dapatkan, tapi bagi keluarga kami, ini adalah sesuatu yang amat berharga. Apa yang kami santap setiap hari setidaknya menjadikan kami lebih sehat untuk saat ini dan nanti.

Saat istri mulai memanen hasil kebun sendiri.

Awalnya kami tidak percaya, bahwa apa yang kami tanam ternyata tumbuh dengan baik. Bayam yang kami tanam ini adalah jenis bayam jawa. Induk dari bayam ini saya peroleh juga dari pekarangan kami yang tumbuh liar. Kami biarkan bayam yang tumbuh liar ini sampai berbunga dan biji yang dihasilkan kami  semai lagi.

Bayam yang tumbuh subur.

Cabe..., salah satu bagian dari bumbu masak yang tak bisa ditinggalkan dan harus selalu ada. Mungkin setiap keluarga seharusnya menanam cabe. Cabe yang kami tanam ini jenis cabe rawit, jadi bisa berumur panjang hampir satu tahun lebih dan buahnya banyak. 

Cabe yang akan bertahan lama untuk keluarga kami.

Karena lahan yang kami miliki terbatas, kami berusaha mencari cara supaya bisa menanam sehingga semakin lengkap koleksi sayuran kami. Kebetulan banyak botol bekas minuman yang sudah tidak terpakai, kamipun memanfaatkan untuk menanam seledri, dan kami tempatkan di lokasi yang banyak terkena sinar matahari. Tumbuhan juga perlu juga memasak... he...

Karena lahan yang kurang, saya memanfaatkan botol bekas.

Sunday, 17 November 2013

Update - Cara membuat Bell Siphon

Sedikit Teori Tentang Media Tempat Penanaman.

Dalam membuat bell siphon kita perlu mengetahui persyaratan atau kata lainnya aturan main, tanpa mengetahui aturan main sudah pasti bell siphon yang kita buat akan menjadi sia-sia. Dari berbagai teori yang telah saya obrak abrik di dunia maya alias internet, akhirnya saya menemukan aturan mainnya, yang tentu sudah saya ramu menjadi bahasa yang sesuai karakter saya hehe...
Jadi gini..., menurut teori, media penanaman dibagi dalam 3 lapisan (zone), jika dengan asumsi tempat media  penanaman yang digunakan memiliki ketinggian 30 cm. Konon katanya ketinggian 30 cm adalah ukuran standart terutama untuk sayuran seperti caisin, slada, bayam dll. Pada ukuran ini (30 cm), saya sudah mempraktekkan dan sudah saya bagikan pengalaman itu di tulisan saya “Aquaphonic Mini”. Bagi yang mau mencoba ukuran yang lebih pendek silahkan, mungkin hasilnya kurang maksimal he... Langsung ya, lapisan-lapisan itu adalah:  

1.  Lapisan atas (zone 1). Tebal untuk lapisan ini sekitar 5 cm. Lapisan ini adalah lapisan kering krontang, karena lapisan ini terpapar langsung sinar matahari, terutama pada bagian permukaan. Pada lapisan ini penguapan akibat panas sinar matahari dapat dihambat, akibatnya ganggang dan jamur tentu tidak dapat tumbuh. Bagaimana kalo lapisan terlau tebal (> 5 cm) atau terlau tipis (< 5cm) ?, perlu dicoba tentunya.      

2.   Lapisan tengah (zone 2).  Tebal lapisan ini antara 15-20 cm. Lapisan ini adalah lapisan perakaran, di tempat inilah akar tanaman akan menjulurkan akarnya ke mana-mana untuk mendapatkan nutrisi, dan pada lapisan inilah terjadinya pasang surut. Saat terjadi pasang, maka daerah ini akan penuh dengan air dan pada kesempatan inilah akar tanaman dapat memperoleh nutrisi. Pada saat surut daerah ini akan menjadi kering, tapi kering yang basah, nah loh.. gimana tuh..?. Saat terjadi surut inilah akar tanaman, mikroba baik dan cacing mendapatkan oksigen. 

3.  Lapisan dasar (zone 3). Tebal lapisan ini 5 cm. Pada lapisan ini terdapat limbah ikan, dan limbah cacing terkumpul, tentu pada lapisan ini juga, limbah ikan akan diurai oleh cacing dan mikroba menjadi nutrisi, yang pada saat pasang terjadi nutrisi tersebut akan terangkat. Adanya pasang surut, maka dareah ini selalu segar, karena oksigen yang dibawa saat terjadi proses pengeringan pada lapisan tengah.

Nah setelah kita paham akan aturan main tentang tempat media pananaman, sekarang kita bisa merancang bell siphon yang sesuai dengan tempat media tanam yang kita miliki. Tentu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa mengatur supaya lapisan atas (zone 1) selalu kering, lapisan tengah (zone 2) terjadi pasang surut, dan lapisan dasar (zone 3) limbah dapat terkumpul, tentu saja kuncinya ada di desain bell siphon.
Pada tulisan saya sebelumnya, untuk bahan yang diperlukan dalam membuat bell siphon, saya membagi bahan-bahan tersebut menjadi 3 bagian, hal itu saya lakukan dalam upaya untuk mempermudah pemahaman.

Bagian 1.  Bagian ini saya menyebutnya sebagai "sistem air pasang", kenapa sistem air pasang ? Pertanyaan yang bagus he…  Karena ketinggian air pasang tergantung dari panjang dan pendeknya sistem ini.

Bagian ini saya namakan "sistem air pasang"

Bagian 2. Bagian ini saya menyebutnya sebagai sistem air surut, mengapa demikian ?. Karena pada bagian ini terutama pada bagian ujung selang aerator, adalah bagian yang menentukan titik terendah air surut. Sebenarnya tanpa selang aerator juga bisa, kita bisa membuat lubang di mana saja, lubang itulah sebagai titik terendah air surut, saya menggunakan selang aerator sebagai titik terendah air surut karena lebih fleksibel.

Tinggi rendahnya air surut, tergantung dari ujung selang aerator (sistem air surut).
Bagian 3. Saya menyebutnya sistem perisai. Karena pada bagian ini mempunyai fungsi melindungi sistem pasang surut, sehingga batu, kerikil, atau media tanam yang lainnya tidak bisa masuk.

 


Jika penjelasan di atas masih terasa sulit dipahami, tenang... karena semuanya akan saya perjelas dengan menggunakan gambar.

Nah... berikut ini akan saya jelaskan langkah demi lankah membuat bell siphon.

1. Mempersiapkan media tempat penanaman. 

Contoh tempat yang saya pakai di aquaphonic edisi ke-2.

Mengukur ketinggian tempat media tanam.

Membuat lubang bagian dasar untuk pemasangan verlop ring.


Memasang verlop ring.



2. Membuat sistem air pasang.

Panjang pipa pvc menjadi penentu ketinggian air pasang.

Memasang sistem air pasang ke media tempat penanaman.

3. Membuat sistem air surut.

Bagian bawah., dibentuk sedemikian rupa agar air bisa masuk. 


Bagian atas, jangan sampai ada yang bocor.


Pemasangan



4. Membuat perisai
Lubang kecil untuk jalan air.


Pemasangan.

5. Selesai

Hasilnya.


Andai masih kurang jelas, dibawah ini saya buatkan ilustrasinya.



Mohon maaf kalo banyak yang salah dari tulisan saya, semoga bermanfaat..
Terima kasih.. sekian dulu.




Cara Kerja Bell Siphon

Ada pertanyaan yang sering muncul, bagaimana cara kerja bell siphon. Saya bukan seorang ahli, tapi saya akan mencoba membantu untuk sedikit menjelaskan dengan cara-cara yang mungkin bisa lebih mudah dipahami (harapan saya he...). Mohon maaf sebelumnya apabila ada salah dan kekurangan, karena hanya seorang ahli (fisikawan mungkin he..) yang bisa menjelaskan dengan sangat detail dan mungkin benar 100%. Langsung saja ya.... 

Kita anggap bell siphon berada di dalam sebuah wadah. Wadah kita aliri air dari luar (dari kolam ) secara terus menerus tanpa henti menggunakan pompa air

Sebagai ilustrasi biar lebih mudah dipahami..



Bell siphon 

Proses perjalanan air
Di dalam bell siphon, air masuk melalui lubang yang ada di bagian bawah (1) , air terus naik (2) sampai akhirnya mencapai ketinggian maksimal (3), dan kemudian mengalir ke kolam melalui pipa bagian dalam (4) (5) dan (6). Selama  proses ini terjadi, udara yang semula mengisi bell siphon akan terdorong keluar melalui pipa bagian dalam (4), (5) dan (6).

Aliaran air dalam bell siphon mirip dalam sebuah selang.


Proses terjadinya air surut.
Kunci terjadinya surut  ada di  bagian (4), dimana diameter pipa semakin mengecil (semakin mengerucut ke bawah). Air yang mengalir, saat memasuki bagian (4) seolah-olah akan menyatu (akibat kemiringan pipa menuju diameter yang lebih kecil) dan ikatan/gaya tarik antar partikel air semakin kuat dengan tidak adanya gangguan udara dari luar. Adanya gaya tarik, tekanan, gaya gravitasi, dll  dan tidak adanya udara dari luar yang masuk ke dalam bell siphon, membuat air yang turun (4), (5) dan (6) akan terus menarik/menyedot air yang ada di dalam wadah untuk mengalir melaui pipa-pipa di dalam bell siphon, dan air yang turun menjadi sangat deras/cepat, dibandingkan air yang masuk ke dalam wadah.
Karena debit air yang menuju ke kolam melalui bell siphon (keluar melaui bell siphon)  jauh lebih besar dibandingkan air yang masuk ke dalam wadah, mengakibatkan air dalam wadah yang semula penuh, perlahan-lahan akan berkurang atau mengalami surut.

Proses air surut berhenti.
Karena air dalam wadah terus berkurang/surut, hingga akhirnya permukaan air mencapai ujung/dibawah selang aerator (7), sehinnga udara dapat masuk melalui selang aerator tersebut  menuju ujung bagian dalam/atas bell siphon (8) atau (9) (salah satu tergantung mana yang kita gunakan). Adanya udara yang masuk terus menerus melalui ujung aerator akibat air surut sudah mencapai bag (7),  bagian (3) tentu juga akan terisi udara secara terus menerus, saat itulah ikatan air seolah-olah pecah, dan akhirnya air akan berhenti mengalir dan proses surutpun  berhenti.

Proses pasang.
Setelah proses surut berhenti (tidak ada air yang keluar melalui bell siphon), air akan kembali naik secara perlahan, karena wadah dialiri air dari luar secara terus menerus (dari pompa air kolam).  Setelah air mencapai titik maksimal/pasang (3), proses air surut akan terjadi lagi.

Catatan : Pasang surut akan terjadi apabila syarat-syarat terpenuhi.



Mungkin bisa dibaca juga Masalah Seputar Bell Siphon
Makasih buat teman-teman yang sudah memberikan masukan.....




Saturday, 16 November 2013

Cara Membuat Bell Siphon (Aquaphonic Pasang Surut)

Menurut saya, dalam aquaphonic sistem pasang surut, bell siphon merupakan faktor yang sangat, bahkan mungkin paling penting, karena bell siphon berperan dalam mengatur pasang surut. Pembuatan bell siphon sebenarnya sangat mudah, hanya kita perlu ketekunan. Dulu pada awalnya, saat saya mencoba membuat bell siphon memang terasa sulit, karena saat itu, bagi saya bell siphon masih terasa asing dan aneh. Setelah mencari banyak informasi di internet dan mencoba memahami cara kerja, akhirnya saya mencoba membuat sendiri dan memang berhasil, tentu saja harus melewati kegagalan juga.

Langsung saja akan saya bagikan tentang cara membuat bell siphon, dan apa yang akan saya bagikan semua hasil dari pengalaman yang telah saya lakukan selama ini. Tentu dalam membuat bell siphon diperlukan alat dan bahan, untuk bahan yang perlu disediakan antara lain :
Bagian 1,
  1. Verlop Ring, ukuran 3/4 ", 1 saja.
  2. Verlop Sock, ukuran 1" x 3/4", Untuk hasil yang lebih baik dan ukuran media tanam yang luas, lebih baik mengunakan ukuran 1 1/4" x 3/4", 1 saja.
  3. Sock Drat luar, 3/4", 1 saja.
  4. Pipa PVC ukuran 3/4, 1 saja, panjang menyesuaikan.

Bagian 2,
  5. Pipa PVC ukuran 2", 1 saja, panjang menyesuaikan.
  6. Dop 2" (tutup pipa), 1 saja.
  7. Selang aerator, panjang menyesuaikan, yang kecil saja ya (boleh pakai, boleh tidak).

Bagian 3,
  8. Pipa PVC kuran 2,5" atau yang lebih besar, dengan panjang menyesuaikan.

Dan untuk alat, yang perlu disediakan antara lain:
1. Gergaji besi, dipakai untuk memotong pipa.
2. Alat untuk melubangi pipa, selama ini saya memakai solder.
3. Cutter.
4. lain-lain, (yang penting menurut saya hanya no 1-3).

Mungkin untuk memperjelas bisa dilihat gambar di bawah ini.

Contoh bell siphon yang saya buat.
Dalam pembuatan bell siphon, beberapa bahan seperti yang telah saya sebutkan di atas, terutama pipa panjangnya saya sebutkan "menyesuaikan", hal itu karena menyesuaikan tempat/wadah yang akan digunakan untuk media tanam. Silahkan klik http://wana-wana-blogger.blogspot.com/2013/11/update-cara-membuat-bell-siphon.html untuk kelanjutannya.
Terimakasih..


Friday, 15 November 2013

Update - Akuaponik (Aquaphonic) Edisi Ke-2

Pengisian Media Tanam
Proses pembuatan aquaphonic edisi ke-2  ini agak ribet, beberapa kali mengalami kebocoran, tapi setelah bebarapa kali dilem, akhirnya semua bisa teratasi. Setelah tidak ada kebocoran lagi, saya mulai memasukkan  media tanam.  


Memasukkan media tanam.
Karena wadah yang agak besar, tentu kebutuhan media tanam juga semakin banyak. Untuk penghematan, kira-kira 3/4 bagian bawah saya isi batu krakal dan 1/4 bagian atas saya isi kerikil.

Penanaman.
Untuk penanaman, saya mencoba beberapa tanaman antara lain: caisin, tomat chery, bayam merah, pare dan  kangkung. Khusus untuk caisin dan kangkung, biji langsung saya semai ke media tanam, dan untuk yang lain secara kebetulan sudah tersedia benih yang sudah tumbuh sehingga tinggal memindah ke media aquaphonic. 

Penanaman tomat chery dan bayam merah.
Penanaman pare.

Penyemaian biji caisin.
Dan akhirnya tinggal menunggu, semoga semua tanaman bisa tumbuh dengan subur.


29 November 2013

 Saya bagikan ya perkembangan tanamannya....

Tomat Chery yang sudah berbunga.

Tampak dari jauh.

Ada yang subur, ada yang tidak.


9 Desember 2013

Perkembangan akuaponik 

Umur sawi sudah sekitar 1,5 bulan, siap panen...

Tomat chery sudah mulai berbuah....


12 Desember 2013

Kangkung perdana sudah dipetik untuk sayur gudangan (NO VETSIN)

18 Desember 2013

Akhirnya sawi sudah bisa dipetik, sama istri di oseng-oseng, lauk tempe garit dan nuget ikan tongkol buatan istri (NO VETSIN). Untuk tomat sudah banyak buah tapi belum bisa dipanen karena masih hijau.

Update Sawi...

Memang sudah saatnya panen.


Panen..


Update tomat chery...







26 Desember 2013
Update akuaponik, seharusnya tidak hanya milik tanaman, tapi, ikan kami pun tentunya ingin sekali narsis di blog, karena mereka bagian dari blog ini he..... Dan memang itulah kenyataanya, sejak akuaponik ada, perlahan tapi pasti ada peningkatan dalam kehidupan ikan nila. Alasan adanya akuponik edisi ke-2 ini, karena kehidupan "nila" yang sejak awal kami memelihara, setiap hari banyak ditemui bangkai yang jumlahnya tidak sedikit (selalu lebih dari 5).

Nila kami juga ingin "nampang" di blog.
Kami benar-benar mengakui efek positif dari akuaponik. Ikan-ikan nila kami terlihat semakin ceria dan bertambah besar seiring tumbuh suburnya tanaman kami. Tentu yang kami rasakan perbedaanya adalah sudah hampir 3 minggu, bangkai ikan sangat jarang, bahkan tidak kami temui lagi. Kami pun sangat senang dengan keadaan ini, semoga kami bisa memanen ikan-ikan kami.  
Tambahan aja..., saat kami mencoba melihat ikan nila di siang hari, mereka tidak mau menampakkan diri. Tapi saat pagi atau sore saatnya jam makan tiba, mereka saling berlomba menampakkan diri, kadang mengikuti kemana tangan kami bergerak... lucu juga... he....
  
Ada yang tertinggal di file 26 Desember 2013, sawi perdana di akuaponik edisi-2 telah dipanen habis. Ukuran sawi di akuaponik jauh lebih besar dibandingkan di pot.

Ukurannya memang luar biasa.

2 Januari 2014

Kemarin siang tepatnya 1 Januari 2014, ketika melihat akuaponik rasanya gregeten, mengapa tidak ?, hama di tanaman tomat chery sudah merajalela. Dibantu istri, kami membasmi hama yang jumlahnya sudah tidak terhitung banyaknya, terpaksa ranting dan daun harus kami potong dan kemudia dibakar. Hama menyerang daun hingga berwarna kecoklatan, akibatnya tanaman tidak bisa "memasak" dan pertumbuhan menjadi tertanggu. Kami masih beruntung tomat yang sudah membesar tidak diserang.

Terpaksa taneman kami "gunduli"

10 Januari 2014

Warna merah yang menggoda membuat kami tak sabar untuk memetiknya... dan mulai hari ini tomat chery sudah bisa dipetik. Horeeeee....








Dan puji Tuhan, dari semua tomat chery, tidak satupun buah yang terserang hama, semua mulus-mulus. 

21 Januari 2014

Tomat Chery Pensiun.. 
Daun tomat yang sudah habis termakan hama, membuat tanaman tersebut terlihat merana, sehingga, rasanya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Meskipun daun tomat chery banyak terserang hama, buahnya tak satupun yang terserang, sekitar 95% matang sempurna. 

Tomat Chery terakhir.
Saat dilakukan pembongkaran, terlihat banyak kotoran. Setelah dibersihkan,  kemudian kami tanami terong medan, karena kebetulan bibit sudah siap dipindah. Kali ini yang ditanam hanya 2, supaya, ketika sudah besar tidak saling menutupi.


Pembongkaran tomat chery.

Langsung diganti tanaman terong medan.

Di bak yang lain, ada yang kami rubah, yaitu batu kami ganti dengan yang lebih besar (krakal). Dengan batu yang agak besar, akan terdapat banyak ronga, sehingga akar akan lebih leluasa mencari nutrisi. Kita tunggu saja apakah ada perbedaan dengan digantinya batu tersebut.


Kita akan lihat perkembangan loncang, sledri dan terong medan.

6 Februari 2014

Tidak terduga, kangkung berkembang pesat dan subur.

7 Februari 2014

Pada bak 1, bekas tanaman tomat chery, beberapa hari ada masalah yaitu bell siphon tidak dapat berfungsi. Setelah berkali-kali diakali ternyata tidak berfungsi juga. Dan apa yang diduga benar juga, kotoran sudah menumpuk. Tanaman terong medan harus dikorbankan dan bak kami bongkar untuk dibersihkan. 


Beginilah penampakan krakal yang penuh kotoran.


Lebih mirip air comberan.

Dari pengalaman ini, kami harus memperbaiki sistem kami. Mungkin alangkah lebih baik, sistem ditambah dengan filter seperti apa yang kami lakukan di akuaponik ikan koi, media tanam dialiri air yang telah melewati filter.

17 Februari 2014

Dampak dari letusan Gunung Kelud pada tanggal 13 Februari 2014 sampai di tempat  kami, dan akuaponik juga mengalami masalah. Karena media akuaponik mengalami masalah dampak dari letusan tersebut, di sisi lain kami akan menyempurnakan sistem supaya lebih baik maka update akuaponik Edisi ke-2 ini dihentikan. 

Dampak letusan Gunung Kelud.

Terimakasih...