Thursday, 28 November 2013

Hebatnya Air Kolam Ikan...

Rasanya perlu kembali ke masa lalu ke tempat dimana saya dibesarkan, yaitu di Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran Bantul. Dulu saat saya masih kecil, kami anak panti sudah diajarkan bercocok tanam, baik di sawah maupun di kebun belakang milik panti. Untuk kebun,  setiap hari kami harus merawat sayuran yang kami tanam, ada bayam, tomat, cabai, sawi, dll. Dalam menanam, kami diajarkan menanam dengan menggunakan pupuk kandang yang kami olah dari kotoran ternak seperti kambing, sapi, yang kami pelihara. Dalam hal penyiraman, tidak diperbolehkan menggunakan air ledeng/kran, tapi harus menggunakan air dari kolam ikan tempat kami memelihara lele.

Foto jadul saat kami di sawah sekitar 20 tahun yang lalu.
Dan sekarang bukanlah masa lalu, tapi kebiasaan hidup di masa lalu bisa mengakar dalam kehidupan hingga saat ini, bahkan hebatnya lagi bisa membentuk suatu karakter, tidak percaya...? silahkan ingat masa lalu anda dan bandingkan dengan keadaan anda sekarang he... he.... Saat ini saya sudah berkeluarga, kebiasaan menanam ternyata telah mengakar dalam diri saya, sehingga sesibuk apapun kegiatan saya, setiap sore sepulang kerja saya dan istri selalu sempatkan untuk merawat tanaman di pekarangan mini keluarga kami. 
Perawatan terhadap tanaman kamipun tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan di panti. Untuk masalah pemupukan, pupuk kandang masih andalan saya dan tetap akan selalu menjadi andalan selama saya masih menanam. Tak kalah penting adalah penyiraman, ibarat manusia tanpa air sudah pasti manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup. Seperti apa yang telah menjadi kebiasaan saya di panti, meskipun air ledeng lancar, selang panjang tersedia, tapi tetap saya akan mengandalkan air kolam yang penuh dengan limbah kotoran ikan. 
Sejak saya di panti dulu sampai sekitar 2 tahun yang lalu, saya masih belum tahu secara pasti apa benar air kolam bisa menyuburkan tanaman. Hanya keyakinanlah yang membuat saya tetap mengandalkan air kolam untuk penyiraman. Dari tanaman yang saya miliki memang tumbuh subur, tapi tentu kesuburan itu di dukung oleh banyak faktor, tidak hanya faktor air kolam semata.

Menanam saja tentu tidaklah cukup, kita perlu terus belajar untuk lebih memperdalam ilmu dalam menanam, tentu dengan tujuan untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dan mendapatkan ilmu yang pasti untuk diterapkan. Melalui internet, bertanya kepada orang yang berpengalaman dan membaca buku adalah langkah yang saya lakukan. Setiap bulan keluarga kami berlangganan majalah TRUBUS, dan kebetulan ada sebuah artikel yang membahas tentang pengalaman seorang petani buah naga. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa salah faktor keberhasilannya dalam menanam buah naga adalah berkat air kolam ikan yang selalu dipakai dalam penyiraman. Dari situlah saya mulai berfikir, berarti memang benar bahwa air kolam ikan dapat menambah kesuburan tanaman. Satu bukti ada tentu belum cukup, perlu bukti lain.

Limbah dari ikan-ikan ini saya manfaatkan untuk menyiram tanaman.

Di bak filter inilah saya selalu mengambil limbah kotoran ikan.

Dalam berselancar di dunia maya, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah artikel tentang aquaphonic, entah sebuah kebetulan atau apa, saya tak pernah tau, masih sebuah misteri he.... Dengan apa yang saya temukan itu saya semakin mempelajari dan akhirnya praktek langsung adalah jalan selanjutnya sebagai pembuktian. O iya pengalaman aquaphonic sudah saya bagikan di blog saya dengan judul "Aquaphonic Mini"  dan " Aquaphonic Edisi ke-2"  monggo kalau mau baca he....
Dalam aquaphonic, media menanam tidak menggunakan tanah, tapi menggunakan batu kerikil, tentu tidak ada nutrisi yang didapat dari batu kecil-kecil itu. Supaya tanaman bisa hidup jalan satu-satunya hanya mengandalkan air kolam ikan yang dialirkan ke batu kerikil itu. Tentunya timbul pertanyaan, apakah air kolam ikan dapat diandalkan?, dan pertanyaan itu akhirnya terjawab, bahwa air kolam ikan dapat diandalkan. Dari hasilnya saya tidak pernah menduga, tanaman bisa tumbuh subur dan bisa dipanen.

Dan hingga akhirnya... keyakinan yang saya anut selama ini tentang limbah yang menyuburkan dari kolam ikan ternyata telah TERBUKTI dan sah secara meyakinkan... hehe.. Saya sebagai orang awam hanya bisa menjelaskan begini, bahwa kotoran ikan memang mengandung zat amoniak, oleh mikroba baik dan cacing yang ada disekitar akar tanaman, amoniak tadi diubah menjadi zat lain, yang ternyata zat lain itu adalah nutrisi yang sangat diperlukan oleh tumbuhan.

Air kolam untuk setiap tanaman.

Ternyata proses pembuktian "limbah" yang menyuburkan harus melalui jalan yang sangat panjang, dan keyakinan yang teguh mampu menghantarkannya.
Nah saran saya untuk yang mempunyai kolam ikan, jangan buang sia-sia air kotornya, gunakanlah untuk menyiram tanaman setiap hari.

Anggrek ini hanya saya siram air kolam setiap 2 hari sekali.
Saya kasih tambahan ya... Menyiram dengan air kolam memang tidak semudah menggunakan air ledeng/kran, tapi percayalah kita akan mendapatkan manfaat lain yaitu kesehatan tubuh kita terjaga karena aktivitas kita menyiram tanpa menggunakan ledeng/kran.


Lebih dekat ya....


Bunga Anggrek memang cantik.

















Selamat menyiram.......

NB :
Dari Lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terimakasih teruntuk Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran Bantul Yogyakarta, khususnya Suster Armella CB (Suster yang benar-benar luar biasa), Para Pendamping Anak, teman seperjuangan di panti dan Para Suster Konggregasi Santo Carolus Boromeus... terimakasih atas CINTA dan KASIH-nya yang sungguh luar biasa.

12 comments:

  1. Benar sekali Mas artikelnya. Saya juga sudah membuktikan dari fermentasi aikr kolam limbah lele ribuan liter perbulan untuk pemupukan kelapa sawit dan sayuran. Hasilnya cukup memuaskan. Salam PETANI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih dan salam kenal Mas Muhammad Muslim..

      Pengalaman Mas Muhammad pasti akan menambah keyakinan dari para pembaca yang berkenan mampir di blog ini...

      Sekali lagi terimakasih dan salam PETANI

      Delete
  2. Terima Mas, saya ini anak petani yang tinggal di kota, jadi selalu ingin bercocok tanam. Ilmu yang anda bagi sangat membantu saya untuk bisa bercocok tanam di pekarangan rumah. Semoga anda sukses selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih DR Craft...
      Amin Mas, dan itu tujuan saya Mas, semoga semakin banyak orang mau menanam biarpun lahannya sempit, jadi bumi kita tetap seger...he...

      Selamat berkebun di kota DR Craft..

      Terimakasih..

      Delete
  3. bisa nggak kalo kolam tanah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kira bisa Mas, justru kolam tanah ada banyak bakteri pengurai tinggal, jadi airnya bisa lebih subur.. Dimanfaatkan saja Mas.

      Trimakasih.

      Delete
  4. Salam kenal Mas Nanang. Saya Iwan dan baru mulai membuat sistem akuaponik dengan ikan gurame. Saya mau menanyakan, kenapa tanaman saya yang saya tanam dengan sistem NFT kurus2 ya. Bak terpal yang saya gunakan ukuran 2x1x1 m dengan kepadatan gurame 100 ekor ukuran 3 jari. Terima kasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mas Iwan..
      Tanamannya apa Mas, sayuran daun atau sayuran buah.? untuk sistem NFT lebih cocok sayuran daun seperti sawi/slada..
      Dan untuk akuaponik dari pengalaman, memang lebih baik menggunakan filter dan untuk penanaman lebih baik jika menggunakan media, hal ini karena dalam akuaponik proses nitrifikasi sangat diperlukan untuk menunjang ketersediaan nutrisi.
      Jika dari kolam langsung dialirkan ke tanaman dengan sistem NFT cenderung nutrisi akan kurang, berbeda jika dialirkan langsung tapi dalam penanaman menggunakan media, hal itu membantu proses nitrifikasi.
      Memang ada banyak sekali faktor penyebab yang memang perlu ditelusuri, seperti ketersediaan sinar, umur sistem, jumlah tanaman, dan juga cara penanaman..

      Trima kasih..

      Delete
    2. Terima kasih atas infonya Mas Nanang.

      Saya menggunakan 2 buah tempat filter dari botol aqua galon bekas yang saya isi dengan bioball seluruhnya. Disamping itu, growbed saya (ukuran 70x50x30 2 buah - korban kolam koi sepertinya, hahaha..) dasarnya saya berikan bioball juga dan baru diatasnya kombinasi antara batu apung, zeolit dan kerikil.

      Tanaman yang saya tanam adalah sayuran daun seperti selada, ketumbar dan kangkung.

      Air yang dipergunakan berasal dari kolam Koi saya yang sudah matang (kolam Koi saya sudah sekitar 8 tahun).

      Sinar matahari penuh karena sistem saya ada di dak yg terpapar sinar matahari.

      Hanya ya itu, kangkungnya kurus2 hasilnya. Apa karena pupuk kotoran ikannya belum banyak ya? Bak ikan yang saya pakai baru jalan sekitar 1 bulan.

      ps. Growbed saya memakai bellsiphon yang saya buat berdasarkan info yang saya dapat dari blog Mas Nanang ini, terima kasih banyak atas sharingnya.

      Delete
    3. Sebenarnya ukuran kolam Mas Iwan sama dengan ukuran kolam/akuaponik ibc saya, dengan menggunakan filter 2 galon saya kira kurang besar, pedoman saya filter sekitar 25% volume kolam, jadi saya menggunakan filter dari dua tong biru ukuran 250 liter 2 buah.
      Tapi biarkan berjalan dulu Mas sambil terus diamati, karena umurnya baru sekitar 1 bulan, dan ikan masih kecil2 jadi belum banyak kotoran..
      Penanaman juga penting untuk diperhatikan, kalo saya sekarang dalam penanaman justru akar saya tanam/masukkan di area kering walau kondisi sebenarnya tidak kering ( di atas pasang surut/lapisan atas) Jadi akar nantinya akan mencari jalan sendiri ke area basah (pasang surut) namun masih ada akar yang di area kering yang berperan dalam penyerapan oksigen. O iya posisi pasang jangan sampai menggenangi permukaan.
      Dari kondisi lingkungan saya kira sudah baik,sementara biarkan apa adanya dulu Mas.

      Trimakasih..

      Delete
  5. Salam mas,,
    Saya ingin 1 pertanyaan saja.
    Yang dimaksud difilter itu bagaimana mas? apakah airnya disaring dulu baru air yang bersih dialirkan ke tanaman,,
    atau kotoran difilternya yang dimasukkan tanaman?

    saya masih bingung dengan kata-kata difilter, karena diaquarium yang dimaksud difilter adalah menyaring kotoran di dakron / kassa agar airnya bersih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Mas Wildan
      Dari kacamata orang awam seperti saya, filter bisa disebut penyaringan, penyaringan ada dua macam yaitu mekanik dan biologis...
      filter/penyaringan mekanik berfungsi untuk memisahkan material padat dalam hal ini kotoran ikan dan sisa pakan yang tidak termakan(bisa saringan berbahan khusus atau dengan pengendapan)
      Filter biologis berfungsi menghilangkan atau mengurangi amoniak dari air dengan bantuan bakteri pengurai amoniak yang mampu merubah amoniak menjadi nitrit-nitrat. Amoniak dihasilkan oleh ikan terutama lewat insang dan dari sisa pakan yang tidak dimakan dan sifatnya beracun bagi ikan dalam kadar tertentu.
      Setelah melewati 2 filter tersebut diharapkan air lebih bersih dari kotoran padat dan amoniak yang beracun, sehingga ikan tetap sehat.
      Nah tanaman yang ada di dalam kolam baik lumut, ganggang, ataupun sayuran (dalam akuaponik) bisa hidup karena nitrat yang dihasilkan dari penguraian bakteri, nitrat tersebut merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
      Bahkan kotoran padatpun yang ada dipengendapan juga akan diurai menjadi zat zat yang tidak beracun bagi ikan dan bermanfaat bagi tumbuhan.
      Jadi dalam akuaponik terjadi proses alami yang kompleks.

      Kalo penyaringan dengan dakron/kassa itu lebih pada filter mekanik, jadi hanya menyaring padatan/kotoran saja.
      Demikian Mas, semoga sedikit penjelasan saya tidak menambah bingung he....
      Trimakasih...

      Delete